Makalah Asuhan Keperawaratan Pada Osteosarkoma

Disusun Oleh Kelompok 5:
1.
Dwi Puspitasari
2.
Melliya Andriyanti
3.
Oji Nasrul
4.
Vincensius Apollo Nuri
5.
Wilda Quraita Ayyun
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HUSADA JOMBANG
PRODI
S1-KEPERAWATAN
2015
DAFTAR
ISI
1. Cover………………………………………………………….…….....1
2. Daftar isi…………………………………………………………….....2
3. Isi…………………………………………………………………...….3
a.
Pendahuluan…………………………………………………..…...3
1.
Latar
Belakang…………………………………………….…..3
2.
Rumusan
Masalah……………………………………….….…4
3.
Tujuan
Masalah…………………………………………….….4
b.
Pembahasan…………………………………………………….….5
1.
Laporan
pendahuluan pada Osteosarkom.……..……….….…..5
2.
Asuhan
keperawatan pada Osteosarkoma ..………………..…12
c.
Penutup…………………………………………………………....24
1.
Kesimpulan................................................................................24
2.
Saran
……………………………………………………...…..24
4. Daftar pustaka…………………………………………………...…....26
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sarkoma osteogenik (Osteosarkoma) merupakan
neoplasma tulang primer yang sangat ganas. Tumor ini tumbuh di bagian metafisis
tulang. Tempat yang paling sering terserang tumor ini adalah bagian ujung
tulang panjang, terutama lutut.(Price, 1962:1213)
Menurut badan kesehatan dunia ( World Health
Oganization ) setiap tahun jumlah penderita kanker ± 6.25 juta orang. Di
Indonesia diperkirakan terdapat 100 penderita kanker diantara 100.000 penduduk
per tahun. Dengan jumlah penduduk 220 juta jiwa terdapat sekitar 11.000 anak
yang menderita kanker per tahun. Di Jakarta dan sekitarnya dengan jumlah
penduduk 12 juta jiwa, diperkirakan terdapat 650 anak yang menderita kanker per
tahun.
Menurut Errol Untung Hutagalung, seorang guru
besar dalam Ilmu Bedah Orthopedy Universitas Indonesia, dalam kurun waktu 10
tahun (1995-2004) tercatat 455 kasus tumor tulang yang terdiri dari 327 kasus
tumor tulang ganas (72%) dan 128 kasus tumor tulang jinak (28%). Di RSCM jenis
tumor tulang osteosarkoma merupakan tumor ganas yang sering didapati yakni 22%
dari seluruh jenis tumor tulang dan 31 % dari seluruh tumor tulang ganas. Dari
jumlah seluruh kasus tumor tulang 90% kasus datang dalam stadium lanjut. Angka
harapan hidup penderita kanker tulang mencapai 60% jika belum terjadi
penyebaran ke paru-paru. Sekitar 75% penderita bertahan hidup sampai 5 tahun
setelah penyakitnya terdiagnosis. Sayangnya penderita kanker tulang kerap
datang dalam keadaan sudah lanjut sehingga penanganannya menjadi lebih sulit.
Jika tidak segera ditangani maka tumor dapat menyebar ke organ lain, sementara
penyembuhannya sangat menyakitkan karena terkadang memerlukan pembedahan
radikal diikuti kemotherapy.
Kanker tulang ( osteosarkoma ) lebih sering
menyerang kelompok usia 15 – 25 tahun (pada usia pertumbuhan). Rata-rata
penyakit ini terdiagnosis pada umur 15 tahun. Angka kejadian pada anak
laki-laki sama dengan anak perempuan. Tetapi pada akhir masa remaja penyakit
ini lebih banyak di temukan pada anak laki-laki. Sampai sekarang penyebab pasti
belum diketahui. (Smeltzer. 2001: 2347).
B. Rumusan Masalah
1.
Bagaimana laporan pendahuluan
pada Osteosarkoma?
2.
Bagaimana asuhan keperawatan
pada penyakit Osteosarkoma?
C. Tujuan Masalah
1. Mengetahui laporan pendahuluan pada penyakit
Osteosarkoma?
2. Mengetahui
asuhan keperawatan pada penyakit Osteosarkoma?
BAB II
PEMBAHASAN
1. Anatomi Fisiologi
Tulang adalah organ vital yang berfungsi untuk gerak pasif, proteksi
alat-alat di dalam tubuh, pemben Ruang ditengah tulang-tulang tertentu berisi
jaringan hematopoietik yang membentuk berbagai sel darah dan tempat primer
untuk menyimpan dan mengatur kalsium dan posfat. Ruang ditengah tulang-tulang
tertentu berisi jaringan hematopoietik yang membentuk berbagai sel darah dan
tempat primer untuk menyimpan dan mengatur kalsium dan posfat.
Sebagaimana jaringan pengikat lainnya, tulang terdiri dari komponen
matriks dan sel. Matriks tulang terdiri dari serat-serat kolagen dan protein
non-kolagen. Sedangkan sel tulang terdiri dari osteoblas, oisteosit, dan
osteoklas.
Osteoblas membangun tulang dengan membentuk kolagen tipe I dan
proteoglikan sebagai matriks tulang atau jaringan osteosid melalui suatu proses
yang disebut osifikasi. Ketika sedang aktif menghasilkan jaringan osteoid,
osteoblas mensekresikan sejumlah besar fosfatase alkali, yang memegang peranan
penting dalam mengendapkan kalsium dan fosfat ke dalam matriks tulang.
Sebagian
dari fosfatase alkali akan memasuki aliran darah, dengan demikian maka kadar
fosfatase alkali di dalam darah dapat menjadi indikator yang baik tentang
tingkat pembentukan tulang setelah mengalami patah tulang atau pada kasus
metastasis kanker ke tulang.
Osteosit adalah sel-sel tulang dewasa yang bertindak
sebagai suatu lintasan untuk pertukaran kimiawi melalui tulang yang padat.
Osteoklas adalah sel-sel berinti banyak yang memungkinkan mineral dan matriks
tulang dapat diabsorbsi. Tidak seperti osteoblas dan osteosit, osteoklas
mengikis tulang. Sel-sel ini menghasilkan enzim proteolitik yang memecahkan
matriks dan beberapa asam yang melarutkan mineral tulan90g sehingga kalsium dan
fosfat terlepas ke dalam aliran darah. (Setyohadi, 2007; Wilson. 2005; Guyton.
1997)

2.
Pengertian
Kanker adalah neoplasma yang tidak terkontrol
dari sel anaplastik yang menginvasi jaringan dan cenderung bermetastase sampai
ke sisi yang jauh dalam tubuh.(Wong.2003: 595).
Carsinoma tulang adalah pertumbuhan jaringan baru yang terus menerus
secara cepat dan pertimbangannya tidak terkendali. Kanker dapat berasal dari
dalam tulang juga timbul dari jaringan atau dari sel- sel kartilago yang
berhubungan dengan epiphipisis atau dari unsur-unsur pembentuk darah yang
terdapat pada sumsum tulang.
Osteosarkoma (Sarkoma Osteogenik) adalah tumor yang muncul dari mesenkim
pembentuk tulang. (Wong. 2003: 616)
Sarkoma osteogenik (Osteosarkoma) merupakan neoplasma tulang primer yang
sangat ganas. Tumor ini tumbuh dibagian metafisis tulang tempat yang paling
sering terserang tumor ini adalah bagian ujung tulang panjang, terutama
lutut.(Price. 1998: 1213).
Osteosarkoma (Sarkoma Osteogenik) merupakan tulang primer maligna yang
paling sering dan paling fatal. Ditandai dengan metastasis hematogen awal ke
paru. Tumor ini menyebabkan mortalitas tinggi karena sarkoma sering sudah
menyebar ke paru ketika pasien pertama kali berobat.(Smeltzer. 2001: 2347)
3.
Etiologi
Etiologi
dari osteosarkoma adalah :
1.
Radiasi sinar radio aktif dosis tinggi
2.
Keturunan ( genetik )
3.
Beberapa kondisi tulang yang ada sebelumnya yang
disebabkan oleh penyakit.
4.
Pertumbuhan tulang yang terlalu cepat.
5.
Sering mengkonsumsi zat-zat toksik seperti : makanan
dengan zat pengawet, merokok dan lain-lain.
4.
Patofisiologi
Adanya tumor di tulang menyebabkan reaksi tulang
normal dengan respons osteolitik destruksi tulang) atau respons osteoblastik
(pembentukan tulang).Beberapa tumor tulang sering terjadi dan lainnya jarang
terjadi, beberapa tidak menimbulkan masalah, sementara lainnya ada yang sangat
berbahaya dan mengancam jiwa.
Tumor ini tumbuh di bagian metafisis tulang
panjang dan biasa ditemukan pada ujung bawah femur, ujung atas humerus dan
ujung atas tibia. Secara histolgik, tumor terdiri dari massa sel-sel kumparan
atau bulat yang berdifferensiasi jelek dan sering dengan elemen jaringan lunak
seperti jaringan fibrosa atau miksomatosa atau kartilaginosa yang berselang
seling dengan ruangan darah sinusoid. Sementara tumor ini memecah melalui
dinding periosteum dan menyebar ke jaringan lunak sekitarnya; garis epifisis membentuk
terhadap gambarannya di dalam tulang
Adanya
tumor pada tulang menyebabkan jaringan lunak diinvasi oleh sel tumor. Timbul
reaksi dari tulang normal dengan respon osteolitik yaitu proses destruksi atau
penghancuran tulang dan respon osteoblastik atau proses pembentukan tulang.
Terjadi destruksi tulang lokal.. Pada proses osteoblastik, karena adanya sel
tumor maka terjadi penimbunan periosteum tulang yang baru dekat lempat lesi
terjadi sehingga terjadi pertumbuhan tulang yang abortif.
Sel-sel dari tumor primer mengikuti aliran pembuluh
darah sampai ke kapiler-kapiler pada tulang. Agregasi antara sel-sel tumor dan
sel-sel darah lainnya akan membentuk emboli di kapiler tulang bagian distal.
Setelah memasuki tulang, maka sel-sel kanker akan mulai berkembang.
Sel-sel kanker yang telah menyebar ke tulang dapat
menyebabkan kerusakan tulang yang hebat. Sel-sel tumor mensekresikan substansi
kimia yang dapat menstimulasi osteoclast seperti prostaglandin-E ( PGE ),
beberapa jenis sitokin, dan factor-faktor pertumbuhan seperti ( TGF ) α dan β,
Epidermal growth factor ( EGF ), ( TNF ), dan IL-1. Osteoclast yang berlebihan
akan menyebabkan resorpsi tulang yang berlebihan pula. Hal ini menyebabkan
tulang tidak padat. Proses ini disebut osteolitik. Proses ini terjadi pada
proses metastase ke tulang oleh kanker payudara.
Sel-sel tumor juga dapat mensekresikan
substansi-substansi kimia yang dapat menyebabkan pembentukan tulang yang tak
terkendali. Proses ini disebut osteoblastik atau osteosklerotik. Contoh proses
ini yaitu metastase ke tulang oleh kanker prostate. Kedua jenis kelainan ini
dapat menimbulkan rasa sakit dan lebih lemah dibandingkan tulang yang normal
sehingga menjadi lebih mudah patah.
5.
Pathway
(lampiran)
6.
Klasifikasi
Klasifikasi Tumor Tulang terdiri dari :
Tumor tulang benigna biasanya tumbuh lambat dan berbatas tegas, gejalanya
sedikit dan tidak menyebabkan kematian. Tumor tulang benigna terdiri atas :
a.
Osteoma,
berasal dari jaringan tulang sejati yang relative jarang terjadi, biasanya
timbul pada tulang membranosa tengkorak.
b.
Chondroma,
sering terjadi pada tulang panjang, misalnya pada lengan kadang-kadang terdapat
pada tulang datar seperti tulang ileum.
c.
Osteohondroma,
bukan neoplasma sejati, berasal dari sel-sel yang tertinggal pada permukaan
tulang, lapisan kartilago pada osteochondroma dapat mengalami transformasi
maligna setelah trauma dan dapat terjadi chondrosarkoma.
Tumor tulang maligna terdiri dari :
a.
Osteosarkoma,
berasal dari osteoblas pada metafisis tulang karena itu tumor terlihat pada
daerah pertumbuhan yang aktif terutama dibagian distal femur bagian proksimal
tibia dan hemerus.
b.
Ewings
sarkoma, adalah tumor ganas yang timbul dalam sumsum tulang, pada tulang
panjang umumnya femur, tibia, fibula, humerus, ulna, vertebra, skapula.
c.
Multiple
myeloma secara patologi tedapat focus distrakdi tulang yang multiple.
d.
Fibrosarkoma
adalah tulang yang biasanya menuju kearah ujung korpustulang panjang terutama
tulang femur dan tibia.
e.
Chondro
sarkoma,timbul dari ujung tulang panjang yang besar atau dari tulang pipih
seperti pelvis dan skapula.
Tumor tulang metastatik
(tumor tulang sekunder) lebih sering dari tumor tulang maligna primer. Tumor
yang muncul dari jaringan tubuh mana saja bisa menginflasi tulang dan
menyebabkan destruksi tulang lokal, dengan gejala yang mirip dengan yang
terjadi pada tumor tulang primer. Tumor yang bermetastasis ketulang paling sering
adalah karsinoma ginjal, prostat, paru-paru, payudara, ovarium dan tiroid.
Tumor metastatik paling sering menyerang kranium, vertebra, pelvis femur dan
humerus.
7. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala dari karsinoma tulang adalah
a. Nyeri dan atau pembengkakan ekstremitas yang terkena
(biasanya menjadi semakin parah pada malam hari dan meningkat sesuai dengan
progresifitas penyakit).
b. Pembengkakan, Pembengkakan
pada atau di atas tulang atau persendian serta pergerakan yang terbatas (Gale.
1999: 245).Teraba massa; lunak dan menetap dengan kenaikan suhu kulit di atas
massa serta distensi pembuluh darah maupun pelebaran vena.Lesi primer dapat mengenai semua tulang.
c. Peningkatan kadar kalsium dalam darah.
d. Keterbatasan gerak.
e. Kehilangan berat badan.
f. Malaise.
g. Demam.
8. Komplikasi
1. Akibat tidak langsung : Penurunan berat badan,
anemia, penurunan kekebalan tubuh
2. Akibat pengobatan : Gangguan saraf tepi,
penurunan kadar sel darah, kebotakan pada kemoterapi.
9. Pemeriksaan Penunjang
1.
Foto tulang
konvensional
Foto tulang konvensional
digunakan untuk menentukan karakter metastasis ke tulang.
2.
Gambaran
CT-Scan
CT scan digunakan untuk
mengevaluasi abnormalitas pada tulang yang susah atau tidak dapat ditemukan
dengan X-Ray dan untuk menentukan luasnya tumor atau keterlibatan jaringan 7.
3.
MRI
Banyak pendapat yang
mengatakan bahwa penggunaan MRI untuk mendeteksi suatu metastasis lebih
sensitif daripada penggunaan skintiscanning.
Pada pemeriksaan MRI didapatkan modul yang soliter atau lebih (kebanyakan/lebih sering soliter),lesi multipel dengan metastasis ke aksis dari pada rangkaian.
Pada pemeriksaan MRI didapatkan modul yang soliter atau lebih (kebanyakan/lebih sering soliter),lesi multipel dengan metastasis ke aksis dari pada rangkaian.
4.
Scintigraphy
( nuclear medicine )
Skintigrafi adalah metode yang
efektif sebagai skrining pada seluruh tubuh untuk menilai metastasis ke tulang.
5.
Pemeriksaan
bone survey (foto seluruh tubuh)
Bone Survey atau pemeriksaan
tulang-tulang secara radio-grafik konvensional adalah pemeriksaan semua
tulang-tulang yang paling sering dikenai lesi-lesi metastatik yaitu skelet,
foto bone survey dapat memberikan gambaran klinik yaitu:
1. Lokasi lesi lebih akuran apakah daerah epifisis,
metafisis, dan diafisis atau pada organ-organ tertentu.
2.
Apakah tumor
bersifat soliter atau multiple.
3.
Jenis tulang
yang terkena.
4.
Dapat
memberikan gambaran sifat-sifat tumor
10. Penatalaksanaan
1.
Penatalaksanaan medis
Tujuan penatalaksanaan
menghancurkan atau mengangkat jaringan ganas dengan metode seefektip mungkin :
1. Tindakan pengangkatan tumor biasanya dengan
mengamputasi
2.
Alloperinol
untuk mengontrol hiperurisemia. Outputurin harus baik(2500-3000ml/hari) unutuk
mengukur tingkat serum kalsium dan mencegah hiperkalsium dan
hiperurisemia.
3.
Bifosfonat
Bifosfonat berfungsi untuk
menekan laju destruksi dan pembentukan tulang yang berlebihan akibat
metastasis.
4.
Kemoterapi
dan terapi hormonal
Obat-obat kemoterapi digunakan
untuk membunuh sel-sel kanker didalam tubuh.Kemoterapi dapat diberikan per-oral
maupun intravena.Terapi hormon digunakan untuk menghambat aktivitas hormon
dalam mendukung pertumbuhan kanker.
5.
Radioterapi
Radioterapi berguna untuk
menghilangkan nyeri dan mengontrol pertumbuhan tumor di area metastasis.
6.
Pembedahan
Pembedahan dilakukan untuk
mencegah atau untuk terapi fraktur.Biasanya pembedahan juga dilakukan untuk
mengangkat tumor. Dalam pembedahan mungkin ditambahkan beberapa ornament untuk
mendukung struktur tulang yang telah rusak oleh metastasis.
2.
Penatalaksanaan keperawatan
1.
Manajemen
nyeri
Teknik manajemen nyeri secara
psikologik (teknik relaksasi napas dalam, visualisasi, dan bimbingan imajinasi
) dan farmakologi ( pemberian analgetika ).
2.
Mengajarkan
mekanisme koping yang efektif
Motivasi klien dan keluarga
untuk mengungkapkan perasaan mereka, dan berikan dukungan secara moril serta
anjurkan keluarga untuk berkonsultasi ke ahli psikologi atau rohaniawan.
3.
Memberikan
nutrisi yang adekuat
Berkurangnya nafsu makan,
mual, muntah sering terjadi sebagai efek samping kemoterapi dan radiasi,
sehingga perlu diberikan nutrisi yang adekuat.Antiemetika dan teknik relaksasi
dapat mengurangi reaksi gastrointestinal.Pemberian nutrisi parenteral dapat dilakukan
sesuai dengan indikasi dokter.
4.
Pendidikan
kesehatan
Pasien dan keluarga diberikan
pendidikan kesehatan tentang kemungkinan terjadinya komplikasi, program terapi,
dan teknik perawatan luka di rumah.
(Smeltzer. 2001)
(Smeltzer. 2001)
11. Konsep Asuhan
Keperawatan pada pasien diare
A. Pengkajian
1. Identitas pasien
1. Identitas
klien : Identits klien( nama, umur, jenis kelamin,
suku/bangsa, agama, status marietal, pekerjaan, pendidikan, alamat, tanggal
MRS, diagnose medis ). Kanker tulang ( osteosarkoma ) lebih sering menyerang kelompok
usia 15 – 25 tahun (pada usia pertumbuhan). Status ekonomi
yang rendah merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya osteosarkoma ditinjau dari pola
makan, kebersihan dan perawatan. Gaya hidup yang tak sehat misalnya merokok, makanan dan minuman yang
mengandung karbon. Alamat berhubungan dengan epidemiologi
(tempat, waktu dan orang). Pekerjaan yang memicu terjadinya osteosarkoma adalah yang sering terkena radiasi
seperti tenaga kesehatan bagian O.K, tenaga kerja pengembangan senjata nuklir,
tenaga IT. Pendidikan berkisar antara SMP samapai Sarjana. Angka kejadian pada
anak laki-laki sama dengan anak perempuan.
2. Riwayat
keperawatan:
a. Keluhan utama : Adalah alasan utama yang menyebabkan
dibawanya klien ke rumah sakit (adanya benjolan dan nyeri).
b. Riwayat
penyakit sekarang : Ini bisa
berupa kronologi terjadinya penyakit tersebut sehingga nantinya bisa ditentukan
kekuatan yang terjadi dan bagian tubuh mana yang terkena. Didahului dengan
manifestasi klinis nyeri dan atau pembengkakan
ekstremitas yang terkena. Pembengkakan pada atau di atas tulang atau persendian serta pergerakan
yang terbatas. Peningkatan kadar kalsium
dalam darah. Rata-rata penyakit ini terdiagnosis pada umur 15 tahun. Tempat
yang paling sering terserang tumor ini adalah bagian ujung tulang panjang,
terutama lutut. sarkoma sering sudah menyebar ke paru ketika pasien
pertama kali berobat.
c. Riwayat penyakit dahulu
: Perlu dikaji untuk mengetahui
riwayat penyakit yang pernah dialami sebelumnya yang dapat digunakan sebagai
acuan dalam menentukan proses keperawatan. Kemungkinan pernah
terpapar sering dengan radiasi sinar radio aktif dosis tinggi. Kemungkinan
sering mengkonsumsi kalsium dengan batas tidak normal. Kemungkinan sering
mengkonsumsi zat-zat toksik seperti : makanan dengan zat pengawet, merokok dan
lain-lain
d. Riwayat penyakit
keluarga : Perlu dikaji untuk mengetahui
apakah penyakit yang dialami oleh klien saat ini ada hubungannya dengan
penyakit herediter. Kemungkinan ada keluarga yang menderita sarcoma.
3. Pemeriksaan
fisik:
1. B1 (Breath)
a.
Inspeksi : bentuk
simetris. Kaji frekuensi, irama dan tingkat kedalaman pernafasan, adakah
penumpukan sekresi. dipsnea (-),
retraksi dada (-), takipnea (+)
b. Palpasi : kaji adanya massa, nyeri tekan ,
kesemitrisan.
c. Auskultasi : dengan menggunakan stetoskop kaji
suara nafas vesikuler, intensitas, nada dan durasi. Adakah ronchi, wheezing
untuk mendeteksi adanya penyakit penyerta seperti broncho pnemonia atau infeksi
lainnya.
2.
B2 (Blood)
a.
Inspeksi : pucat
b. Palpasi : peningkatan suhu kulit di atas massa serta adanya pelebaran vena, nadi meningkat.
c.
Perkusi : batas normal (batas kiri umumnya tidak lebih dari 4-7 dan 10 cm ke arah
kiri dari garis midsternal pada ruang interkostalis ke 4,5 dan 8.
d. Auskultasi : disritmia
jantung,
3.
B3 (Brain)
a. Inspeksi : px lemas, yang diamati mulai pertama kali bertemu dengan
klien. Keadaan sakit diamati apakah berat, sedang, ringan atau tidak tampak
sakit. KeSadaran diamati komposmentis, apatis, samnolen, delirium, stupor dan
koma.
b. Palpasi : adakah parese, anesthesia.
c. Perkusi : refleks fisiologis dan refleks
patologis.
Kepala
: kesemitiras muka, warna dan distibusi rambut serta kondisi kulit kepala.
Wajah tampak pucat.
Mata
: Amati mata conjunctiva adakah anemis, sklera adakah icterus. Reflek mata
dan pupil terhadap cahaya, isokor, miosis atau midriasis. Pada keadaan diare
yang lebih lanjut atau syok hipovolumia reflek pupil (-).
Hidung
: dapat membedakan bau wangi,busuk.
Telinga
: bisa mendengarkan suara dengan baik.
4.
B4 (Bladder)
a.
Inspeksi : testis
positif pada jenis kelamin laki-laki, apak labio
mayor menutupi labio minor, pembesaran scrotum (-),
rambut(-). BAK frekuensi, warna dan bau serta cara pengeluaran kencing spontan
atau mengunakan alat. Observasi output tiap 24 jam atau sesuai ketentuan.
b. Palpasi : adakah pembesaran scrotum,infeksi
testis atau femosis.
5.
B5 (Bowel)
a. Inspeksi : BAB, konsistensi (cair, padat,
lembek), frekuensi lebih dari 3 kali dalam sehari, adakah bau, disertai lendi
atau darah. Kontur permukaan kulit menurun, retraksi dan kesemitrisan abdomen. Ada
konstipasi atau diare.
b.
Auskultasi : Bising
usus
c.
Perkusi : mendengar
adanya gas, cairan atau massa, hepar dan lien tidak membesar suara tymphani.
d. Palpasi : adakah nyeri tekan, superfisial
pemuluh darah.
6.
B6 (Bone)
a.
Inspeksi : px
tampak lemah, aktivitas menurun, rentang gerak pada
ekstremitas pasien menjadi terbatas karena adanya masa, nyeri, pembengkakan ekstremitas
yang terkena.
b. Palpasi : teraba massa tulang
dan peningkatan suhu kulit di atas massa serta adanya pelebaran vena, terjadi kelemahan otot pada pasien.
c.
Perkusi : nyeri dan atau mati rasa pada ekstremitas yang terkena.
7.
Pola Nutrisi
Kebiasaan diet buruk (misalnya : rendah serat, tinggi
lemak, aditif, dan bahan pengawet).
Anoreksia, mual/muntah. Intoleransi makanan. Perubahan berat badan (BB),
penurunan BB hebat, kaheksia, berkurangnya massa otot. Perubahan pada
kelembapan/turgor kulit, edema.
8.
Pola eliminasi
Perubahan pola defikasi, BAB
dan BAK dilakukan dengan bad rest.
9.
Pola istirahat
Perubahan pada pola tidur dan waktu tidur pada malam
hari, adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tidur seperti : nyeri, ansietas,
dan berkeringat malam.
10. Pola
aktivitas
Px nampak lemah, gelisah sehingga perlu bantuan
sekunder untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kelemahan dan atau keletihan.
Keterbatasan partisipasi dalam hobi dan latihan. Pekerjaan atau profesi dengan
pemajanan karsinogen, tingkat stress tinggi.
(Doenges dkk, 2000)
B. Diagnosa keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan obstruksi
jaringan saraf atau inflamasi.
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan
penurunan kekuatan, kerusakan
muskuloskeletal, nyeri, atau amputasi.
3. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan pembedahan atau kerusakan jaringan lunak.
C. Intervensi
No
|
Diagnose keperawatan
|
Tujuan
|
Intervensi
|
Rasional
|
1.
|
Nyeri akut berhubungan dengan obstruksi
jaringan saraf atau inflamasi.
|
Setelah
dilakukan tindakan perewatan 3 x 24 jam nyeri dapat teratasi.
Kriteria
hasil:
1.Meningkatkan kenyamanan.
2. Dapat
mengendalikan nyeri
3. Dapat melaporkan
karakteristik nyeri.
|
1. Catat dan kaji lokasi dan
intensitas nyeri (skala 0-10). Selidiki perubahan karakteristik nyeri.
2. Berikan tindakan kenyamanan
(contoh ubah posisi sering, pijatan lembut).
3. Berikan sokongan (support)
pada ektremitas yang luka.
4. Berikan
lingkungan yang tenang.
5. Kolaborasi dengan dokter
tentang pemberian analgetik, kaji efektifitas dari tindakan penurunan
rasa nyeri.
|
1. Untuk
mengetahui respon dan sejauh mana tingkat nyeri pasien.
2. Mencegah pergeseran tulang
dan penekanan pada jaringan yang luka
3. Peningkatan vena return,
menurunkan edema, dan mengurangi nyeri.
4. Agar pasien dapat
beristirahat dan mencegah timbulnya stress
5. Untuk mengurangi rasa sakit / nyeri.
|
2
|
Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan
penurunan kekuatan, kerusakan
muskuloskeletal, nyeri, atau amputasi.
|
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama 3 x 24 jam masalah kerusakan mobillitas fisik teratasi.
Kiteria hasil :
1. pasien tampak ikut serta dalam program
latihan / menunjukan keinginan berpartisipasi dalam aktivitas.
2. Pasien menunjukan teknik / perilaku yang
memampukan tindakan beraktivitas.
3. Pasien tampak mempertahankan koordinasi dan
mobilitas sesuai tingkat optimal.
|
1. Kaji tingkat immobilisasi yang disebabkan oleh
edema dan persepsi pasien tentang immobilisasi tersebut.
2. Berikan terapi
latihan fisik : ambulasi, keseimbangan, mobilitas sendi.
3. Anjurkan pasien untuk melakukan latihan pasif dan aktif pada yang
cedera maupun yang tidak.
4. Bantu pasien dalam perawatan diri.
5. Kolaborasi
dengan
bagian fisioterapi.
|
1. Pasien
akan membatasi gerak karena salah persepsi (persepsi tidak proporsional).
2. Meningkatkan sirkulasi
darah muskuloskeletal, mempertahankan
tonus otot, mempertahakan gerak sendi, mencegah kontraktur/atrofi dan
mencegah reabsorbsi kalsium karena imobilisasi. Memenuhi
kebutuhan nutrisi
3. Meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk meningkatkan tonus
otot, mempertahankan mobilitas sendi, mencegah kontraktur / atropi dan
reapsorbsi Ca yang tidak digunakan.
4. Meningkatkan kekuatan dan sirkulasi otot, meningkatkan pasien dalam
mengontrol situasi, meningkatkan kemauan pasien untuk sembuh.
5. Untuk menentukan program
latihan.
|
3
|
Resiko infeksi
berhubungan dengan tindakan
pembedahan atau kerusakan jaringan lunak.
|
Tujuan :
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam masalah resiko infeksi tidak
terjadi.
Kriteria hasil :
1. Tidak ada tanda-tanda Infeksi.
2.
Leukosit dalam batas normal.
3. Tanda-tanda
vital dalam batas normal.
|
1. Kaji keadaan luka (kontinuitas dari kulit) terhadap adanya: edema,
rubor, kalor, dolor, fungsi laesa.
2.
Anjurkan pasien untuk tidak memegang bagian yang luka.
3. Rawat luka dengan menggunakan tehnik aseptik.
4. Mewaspadai
adanya keluhan nyeri mendadak, keterbatasan gerak, edema lokal, eritema pada daerah luka.
5.Kolaborasi pemeriksaan darah : Leukosit
|
1. Untuk
mengetahui tanda-tanda infeksi.
2. Meminimalkan terjadinya kontaminasi.
3. Mencegah kontaminasi dan kemungkinan
infeksi silang.
4. Merupakan indikasi adanya osteomilitis.
5. Leukosit yang meningkat artinya sudah terjadi proses infeksi.
|
D. Implementasi
Implementasi merupakan
komponen dari proses keperawatan, dimana tindakan yang diperlukan untuk
mencapai tujuan dan hasil yang diperkirakan dari asuhan keperawatan yang
dilakukan dan diselesaikan. Implementasi mencakup : melakukan, membantu dan
mengarahkan kinerja aktivitas sehari - hari, memberikan arahan keperawatan
untuk mencapai tujuan yang berpusat pada klien dan mengevaluasi kinerja anggota
staf dan mencatat serta melakukan pertukaran informasi yang relevan dengan
perawat kesehatan berkelanjutan dari klien. Selain itu juga implementasi
bersifat berkesinambungan dan interaktif dengan komponen lain dari proses
keperawatan. Komponen implementasi dari proses keperawatan mempunyai lima tahap
yaitu : mengkaji ulang klien, menelaah dan memodifikasi rencana asuhan yang
sudah ada, mengidentifikasi area bantuan, mengimplementasikan intervensi
keperawatan dan mengkomunikasikan intervensi perawat menjalankan asuhan
keperawatan dengan menggunakan beberapa metode implementasi mencakup supervise,
konseling, dan evaluasi dari anggota tim perawat kesehatan lainnya.
Setelah implementasi, perawat
menuliskan dalam catatan klien deskriptif singkat dari pengkajian keperawatan.
Prosedur spesifik dan respon dari klien terhadap asuhan keperawatan. Dalam
implementasi dari asuhan keperawatan mungkin membutuhkan pengetahuan tambahan
keterampilan keperawatan dan personal.
E.
EVALUASI
Evaluasi merupakan proses
keperawatan yang mengukur respon klien terhadap tindakan keperawatan dan
kemajuan klien kearah pencapaian tujuan. Perawat mengevaluasi apakah prilaku
atau respon klien mencerminkan suatu kemunduran atau kemajuan dalam diagnosa
keperawatan atau pemeliharaan status yang sehat. Selama evaluasi perawatan
memutuskan apakah langkah proses keperawatan sebelumnya telah efektif dengan
menelaah respon klien dan membandingkannya dengan prilaku yang disebutkan dalam
hasil yang diharapkan. Selama evaluasi perawat secara kontinyu perawat
mengarahkan kembali asuhan keperawatan kearah terbaik untuk memenuhi kebutuhan
klien.
Evaluasi positif terjadi
ketika hasil yang dinginkan terpenuhi menemukan perawat untuk
menyimpulkan bahwa dosis medikasi dan intervensi keperawatan secara efektif
memenuhi tujuan klien untuk meningkatkan kenyamanan. Evaluasi negative atau
tidak di inginkan menandakan bahwa masalah tidak terpecahkan atau terdapat
masalah potensial yang belum diketahui. Perawat harus menyadari bahwa evaluasi
itu dinamis dan berubah terus tergantung pada diagnosa keperawatan dan kondisi
klien. Hal yang lebih utama evaluasi harus spesifik terhadap klien. Evaluasi
yang akurat mengarah pada kesesuaian revisi dan rencana asuhan yang tidak
efektif dan penghentian terapi yang telah menunjukan keberhasilan.
PATHWAY
|
|
|



![]() |
![]() |
|||||||||||||||
![]() |
|||||||||||||||
![]() |
|||||||||||||||
|
|||||||||||||||
![]() |
|||||||||||||||
![]() |
|||||||||||||||
|
|||||||||||||||
|
|||||||||||||||
|
|||||||||||||||
![]() |
BAB III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Tumor tulang adalah istilah yang dapat digunakan untuk pertumbuhan tulang yang
tidak normal, tetapi umumnya lebih digunakan untuk tumor tulang utama,
seperti osteosarkoma, chondrosarkoma, sarkoma Ewing dan sarkoma
lainnya.
Kanker tulang disebabkan oleh beberapa faktor,
antara lain : radiasi sinar radio aktif dosis tinggi, keturunan. Selain itu juga kanker
tulang disebabkan oleh beberapa kondisi tulang yang ada sebelumnya, seperti :
penyakit paget (akibat pajanan radiasi ).
Manifestasi klinis yang muncul pada tumor
tulang bisa bervariasi tergantung pada jenis tumor tulangnya, namun yang paling umum adalah
nyeri. Akan tetapi manifestasi lainnya juga yang sering muncul, yaitu : persendian yang
bengkak dan inflamasi, patah tulang yang disebabkan karena tulang yang rapuh.
Tumor tulang di bagi menjadi beberapa jenis,
antara lain : Multipel myeloma, Osteoma, Kondroblastoma, Enkondroma, Sarkoma
Osteogenik (osteosarkoma), Kondrosarkoma, Sarkoma Ewing.
Ada tiga bentuk standar pengobatan kanker
tulang, yaitu : pembedahan, terapi radiasi dan kemoterapi. Adakalanya
dibutuhkan kombinasi terapi dari ketiganya. Pengobatan sangat tergantung pada
jenis kankernya, tingkat penyebaran atau bermetastasis dan faktor kesehatan
lainnya.
2.
Saran
1. Saran Bagi Mahasiswa Keperawatan
Seluruh mahasiswa keperawatan agar meningkatkan
pemahamannya terhadap penyakit Sarkoma osteogenik (Osteosarkoma) sehingga dapat dikembangkan dalam tatanan
layanan keperawatan.
2. Saran Bagi Perawat
Diharapkan agar perawat bisa menindak lanjuti
penyakit tersebut melalui kegiatan riset sebagai dasar untuk pengembangan
Evidence Based Nursing Practice di Lingkungan Rumah Sakit dalam seluruh tatanan
layanan kesehatan
3. Saran Bagi Institusi Pendidikan
Bagi
institusi pendidikan hendaknya menyediakan buku – buku yang ada kaitannya
dengan penyakit Sarkoma osteogenik (Osteosarkoma), sehingga menambah refrensi bagi mahasiswa
keperawatan.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Ardiansyah, Muhammad. 2012.Medikal
Bedah Untuk Mahasiswa. Jogyakarta : Diva Press.
2.
Mansjoer, Arief et al. 2000. Fakultas
Kedokteran UI Kapita Selekta Kedokteran.Edisi 3 Jillid 2 Jakarta :
Media Aesculapius
3.
NANDA International.2009. Diagnosa Keperawatan NANDA 2009-2011.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EG
4.
Smeltzer
Suzanne, C (1997). Buku Ajar Medikal
Bedah, Brunner & Suddart.Edisi 8.Vol 3. Jakarta. EGC
5.
Sloane Ethel. 2004. Anatomi dan Fisiologi untuk pemula. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EG
6.
Doengoes, Marilynn E. Et al. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
8.
http://1.bp.blogspot.com/-Nissa
Anagh Uchil ASKEP CA TULANG.htm
Tidak ada komentar:
Posting Komentar