BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit gastroenteritis atau diare merupakan salah satu penyakit
penting karena sering dialami masyarakat dan menjadi penyebab utama kesakitan
dan kematian, terutama pada anak – anak di neara miskin. Hal ini tercermin dari
banyaknya pasien gastroenteritis yang keluar masuk rumah sakit.
Sampai saat ini, penyakit diare(gastroenteritis) masih menjadi masalah
kesehatan di indonesia terutama pada anak – anak. Pada masa anak-anak diare
sangat rentan terjadi. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor terutama dari
sanitasi, melemahnya imunitas, dan faktor sosial ekonomi. Diare merupakan
penyebab utama kesakitan dan kematian pada anak balita (anak dibawah 5tahun) di
negara berkembang. Penyebab utama kematian karena diare adalah dehidrasi
sebagai akibat kehilangan cairan dan elektrolit melalui tinjanya.(Sodikin,
2011)
Dari daftar urutan penyebab kunjungan puskesmas balai pengobatan, Diare
hampir selalu termasuk dalam kelompok 3 penyebab utama ke puskesmas. Angka
kesakitannya adalah sekitar 200 – 400 kejadian diare antara 1000 penduduk
setiap tahunnya. Dengan demikian di indonesia diperkirakan ditemukan penderita
diare sekitar 60 juta kejadian setiap tahunnya, sebagian besar (70 – 80%) dari
penderita ini adalah anak dibawah umur 5 tahun (± 40 juta kejadian). Kelompok
ini setiap tahunnya mengalami lebih dari satu kali kejadian diare. Sebagian
dari penderita (1-2%) akan jatuh ke dalam dehidrasi dan kalau tidak segera
ditolong 50-60% diantaranya dapat meninggal.(Sudaryat, 2007)
Oleh sebab itu, pemerintah harus meningkatkan mutu dan kualitas sarana
serta pelayanan kesehatan yang baik dan memadai. Tenaga - tenaga kesehatan juga
harus memberikan pendidikan kesehatan kepada semua warga masyarakat tentang
bahaya penyakit gastroenteroenteris ini. Peran keluarga dan warga sekitarnya
juga sangat berpengaruh untuk menekan munculnya penyakit ini, karena dari
lingkungan keluargalah pola hidup seseorang terbentuk. Dengan pola hidup sehat
dan bersih, maka kita dapat terhindar dari penyakit gastroenteritis.
B. Rumusan Masalah
1.
Bagaimana laporan pendahuluan
pada penyakit diare?
2.
Bagaimana asuhan keperawatan
pada penyakit diare?
C. Tujuan Masalah
1. Mengetahui laporan pendahuluan pada penyakit diare?
2. Mengetahui
asuhan keperawatan pada penyakit diare?
BAB
II
PEMBAHASAN
1.
Pengertian
Menurut
Muhamad Ardiansyah , dalam buku medikal bedah (2012) gastroenteritis adalah
radang pada lambung dan usus yang memberikan gejaladiare, dengan atau
tanpa disertai muntah, dan sering kali disertai peningkatan suhu tubuh.
Diare yang dimaksudkan di sini adalah buang air besar berkali – kali (
lebih dari empat kali), bentuk feses cair, dan dapat disertai dengan darah atau
lendir. Selain itu, dalam buku medikal bedah pengertian gastroenteritis yang lain adalah:
1.
Gastroenteritis adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan atau tanpa
disertai muntah (Sowden et al ,1996)
2.
Gastroenteritis adalah inflamasi pada daerah lambung dan
intestinal yang disebabkan oleh bermacam – macam bakteri, virus, dan parasit
yang patogen (Whaley dan wong, 1995)
3.
Gastroenteritis adalah buang air besar (defekasi) dengan
jumlah tinja yang lebih banyak dari biasanya, berbentuk cairan atau setengah
cair, dan dapat disertai frekuensi defekasi yang meningkat (Mansjoer et al,
1999)
4.
Gastroenteritis adalah buang air besar yang encer atau cair
lebih dari tiga kali sehari ( WHO, 1980)
2.
Etiologi
Penyebab diare menurut
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
(1985) adalah:
1.
Faktor infeksi
a.
Infeksi enteral
Infeksi
saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare, meliputi infeksi
bakteri (Vibrio, E. Coli, Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia,
Aeromonas, dsb), infeksi virus (Enterovirus, Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus,
dll), infeksi parasit (E. Hystolytica, G. Lamblia, T. Hominis) dan jamur ( C.
Albicans)
b.
Infeksi parenteral
Merupakan
infeksi di luar sistem pencernaan yang dapat menimbulkan diare seperti : otitis
media akut, tonsilitas, bronkopneumonia, ensefalitis dan sebagainya. Keadaan
ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur dibawah 2 tahun.
c.
Infeksi oleh virus
2.
Faktor Malabsorbsi
Malabsorbsi
karbohidrat : disakarida (intoleransi laktosa, maltosa, dan sukrosa),
monosakarida ( intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa). Pada bayi dan anak
yang terpenting dan sering ialah intoleransi laktosa
a.
Malabsorbsi lemak
b.
Malabsorbsi protein
3.
Faktor makanan : makanan basi, beracun, alergi terhadap
makanan
4.
Faktor psikologis : rasa takut dan cemas. Walaupun jarang,
dapat menimbulkan diare terutama pada anak yang lebih besar.
3.
Patofisiologi
pesies bakteri tertentu menghasilkan eksotoksin yang
mengganggu absorbsi usus dan dapat menimbulkan sekresi berlebihan dari air dan
elektrolit. Ini termasuk baik enterotoksin kolera dan E. Coli. Spesies E. Coli
lain, beberapa Shigella dan salmonella melakukan penetrasi mukosa usus kecil
atau kolon dan menimbulkan ulserasi mikroskopis. Muntah dan diare dapat
menyusul keracunan makanan non bakteri. Diare dan muntah merupakan gambaran
penting yang mengarah pada dehidrasi, akibat kehilangan cairan ekstrvaskuler
dan ketidakseimbangan elektrolit. Keseimbangan asam basa terpengaruh mengarah
pada asidosis akibat kehilangan natrium dan kalium dan ini tercermin dengan
pernafasan yang cepat( Sacharin, R.M, 1996).
Patogen usus menyebabkan sakit dengan menginfeksi mukosa usus, memproduksi enterotoksin, memproduksi
sitotoksin dan menyebabkan perlengketan mukosa yang disertai dengan kerusakan
di menbran mikrovili. Organisme yang menginfeksi sel epitel dan lamina propria menimbulkan suatu reaksi
radang local yang hebat. Enterotoksin menyebabkan sekresi elektrolit dan air
dengan merangsang adenosine monofosfat siklik di sel mukosa usus halus.
Sitotoksin memicu peradangan dari sel yang cedera serta meluaskan zat mediator
radang. Perlengketan mukosa menyebabkan cedera mikrivili dan peradangan sel
bulat di lamina propria. Bakteri yang tumbuh berlebihan di usus halus
juga mengganggu mukosa usus. Bakteri menghasilkan enzim dan hasil metabolisme
untuk menghancurkan enzim glikoprotein pada tepi bersilia dan menggangggu
pengangkutan monosakarida dan elektrolit. Cedera vili menyebabkan lesi mukosa
di sana sini yang disertai dengan segmen atrofi vili subtotal dan respon radang
subepitel yang mencolok(Wahab, A Samih, 2000).
Proses terjadinya diare dapat
disebabkan oleh berbagai kemungkinan factor di antaranya pertama factor
infeksi, proses ini dapat diawali adanya mikroorganisme (kuman) yang masuk
dalam saluran pencernaan yang kemudian berkembang dalam usus dan merusak sel
mukosa usus yang dapat menurunkan daerah permukaan usus. Selanjutnya terjadi
perubahan kapasitas usus yang akhirnya mengakibatkan gangguan fungsi usus dalam
absorpsi cairan dan elektrolit. Atau juga dikatakan adanya toksin bakteri akan
menyebabkan system transport aktif dalam usus sehingga sel mukosa mengalami
iritasi yang kemudian sekresi cairan dan elektrolit akan meningkat (A. Aziz,
2006).
Factor malabsorpsi merupakan
kegagalan dalam melakukan absorpsi yang mengakibatkan tekanan osmotik meningkat
sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke rongga usus yang dapat
meningkatkan isi rongga usus sehingga terjadi diare.Factor makanan, ini dapat
terjadi apabila toksin yang ada tidak mampu diserap dengan baik.Sehingga
terjadi peningkatan peristaltic usus yang mengakibatkan penurunan kesempatan
untuk menyerap makan yang kemudian menyebabkan diare. Fakor psikologis dapat
mempengaruhi terjadinya peningkatan peristaltic usus yang akhirnya mempengeruhi
proses penyerapan makanan (A. Aziz, 2006).
1.
Pathway
(lampiran)
2.
Klasifikasi
Macam
– macam Gastroenteritis menurut Muhammad Ardiansyah (2012) adalah:
1.
Penggolongan diare menurut tingkat dehidrasinya:
a.
Dehidrasi ringan
Dehidrasi
ringan terjadi jika tubuh kehilangan cairan 2 – 5 % dari berat badan, dengan
gambaran klinik turgor kulit kurang elastis, suara serak, dan pasien belum
menalami shock
b.
Dehidrasi sedang
Dehidrasi
sedang terjadi jika tubuh kehilangan cairan 5-8% dari berat badan, dengan
gambaran klinik turgor kulit jelek, suara serak, denyut nadi cepat, dan pasien
masuk tahap preshock
c.
Dehidrasi berat
Dehidrasi
berat terjadi jika tubuh kehilangan cairan 8-10% dari berat badan, dengan
gambaran klinik seperti tanda – tanda dehidrasi sedang, ditambah dengan
kesadaran menurun, apatis sampai koma, otot – otot kaku sampai sianosis (warna
kebiru – biruan pada kulit dan selaput lendir yang terjadi akibat peningkatan
jumlah absolut Hb tereduksi).
2.
Penggolongan Gastroenteritis sesuai tingkat keparahannya:
a.
Diare akut
Diare
akut adalah diare yang serangannya tiba – tiba dan berlangsung kurang dari 14
hari. Diare akut ini biasanya diakibatkan oleh infeksi dan dapat
diklasifikasikan secara klinis menjadi dua yaitu:
1.
Diare noninflamasi
Diare
ini disebabkan oleh enterotoksin dan menyebabkan diare cair dengan volume yang
besar tanpa lendir dan darah. Toksin yang diproduksi bakteri akan terikat pada
mukosa usus halus, namun tidak merusak mukosa. Toksin ini meninkatkan kadar
siklik AMP didalam sel, menyebabkan sekresi aktif anion klorida kedalam lumen
usus yang diikuti air, ionkarbonat, kation natrium, dan kalium. Keluhan pada
abdomen jarang terjadi atau bahkan tidak ada sama sekali. Dehidrasi cepat
terjadi apabila pasien tidak segera mendapat cairan penggantian. Tidak
ditemukan leukosit pada pemeriksaan feses rutin.
2.
Diare inflamasi
Diare
inflamasi adalah diare yang disebabkan infeksi bakteri dan pengeluaran
sitotoksin dikolon. Gejala klinis yang muncul diantaranya mulas sampai nyeri,
seperti kolik, mual, muntah, demam,tenesmus (keinginan untuk terus buang air
besar), serta gejala dan tanda – tanda dehidrasi. Secara makroskopi, terdapat
lendir dan darah pada feses harian dan secara mikroskopis terdapat sel leukosit
polimorfonuklear.
b.
Diare kronis
Diare
kronis adalah diare yang berlansung lebih 14 hari.Mekanisme terjadinya diare
akut maupun kronis dapat dibagi menjadi empat yaitu:
1.
Diare sekresi
Diare
sekresi adalah diare dengan volume feses yang banyak. Diare jenis ini biasanya
disebabkan oleh gangguan transport elektrolik akibat peningkatan produksi dan
sekresi air serta elektrolit, namun kemampuan absorbsi mukosa usus ke dalam
lumen usus menurun. Penyebabnya adalah toksin bakteri (seperti toksin kolera),
pengaruh garam empedu, asam lemak rantai pendek, laksatif nonosmotik, dan
hormon intestinal
2.
Diare osmotik
Diare
osmotik terjadi bila terdapat partikel yang tidak dapat diabsorbsi, sehingga
osmolaritas lumen meningkat dan air tertarik dari plasma ke lumen usus.
Akibatnya, terjadilah diare.
3.
Diare eksudat
Peradanan
inflamasi akan menakibatkan kerusakan mukosa, baik usus halus maupun usus
besar. Inflamasi dan eksudat ini dapat terjadi akibat infeksi bakteri maupun
noninfeksi.
4.
Diare kelompok lain
Diare
kelompok lain biasanya lain biasanya akibat gangguan motilitas yang
mengakibatkan waktu transit makanan atau minuman di usus menjadi lebih cepat.
Saat pasien mengalami tirotoksikosis (hiperfungsi kelenjar tiroid), sindrom
iritasi usus, atau diabetes melitus, juga dapat memicu terjadinya diare.
3.
Manifestasi
Klinis
Menurut Muhamad Ardiansyah (2012) manifestasi klinis
pada penderita gastroenteritis adalah sebagai berikut:
1.
Perut mulas dan gelisah, suhu tubuh meningkat
2.
Muntah – muntah
3.
Demam
4.
Sering buang air besar dengan konsistensi tinja cair atau
encer, kadang disertai mual dan muntah
5.
Warna tinja berubah menjadi kehijau – hijauan karena
bercampur dengan empedu.
6.
Anus dan sekitarnya lecet karena seringnya defekasi
7.
Terdapat tanda dan gejala dehidrasi
8.
Diuresis berkurang
9.
Turgor kulit jelek
10. Gangguan
kardiovaskuler pada tahap hipovolemik yang berat dapat berupa renjatan dengan
tanda – tanda denyut nadi cepat ( > 120 x/menit), tekanan darah menurun
sampai tidak terukur
11. Aritmia jantung karena kerusakan kalium
12. Penurunan tekanan
darah akan menyebabkan perfusi ginjal menurun sampai timbul oliguria / anuria.
Bila keadaan tidak segera diatasi akan timbul penyulit nekrosis tubulus ginjal
akut yang berarti suatu keadaan gagal ginjal akut.
4.
Komplikasi
1. Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik
atau hipertonik).
a. Dehidrasi ringan:
1. hilang cairan 2-5% BB (2 liter)
2. turgor kurang
3. suara sesak
b. Dehidrasi sedang:
1. hilang cairan 5-8% BB (4 liter)
2. turgor jelek
3. suara sesak
4. nadi cepat
5. tensi turun
6. respirasi cepat dan dalam
c. Dehidrasi berat
1. hilang cairan 8-10% ( 6 liter)
2. kesadaran menurun yaitu apatis atau koma
3. otot-otot jadi tegang
4. tensi turun sampai 10 mmHg
d. Dehidrasi hipertonik yaitu hilangnya air lebih banyak
dari natrium. Ditandai dengan tingginya kadar natrium
serum(lebih dari 145 mmol/liter) dan peningkataosmolalitas efektif serum (lebih
dari 285 mosmol/liter).
e. Dehidrasi
isotonik yaitu hilangnya air dan natrium dalam jumlah
yang sama.Dehidrasi
isotonik ditandai dengan normalnya kadar natrium serum (135-145 mmol/liter) dan
osmolalitas efektif serum (270-285 mosmol/liter).
f. Dehidrasi
hipotonik yaitu hilangnya natrium yang lebih banyak dari
pada air.Dehidrasi hipotonik ditandai dengan rendahnya kadar natrium serum
(kurang dari 135 mmol/liter) dan osmolalitas efektif serum (kurang dari 270
mosmol/liter).
2.
Renjatan hipovolemik.
a.
Hipokalemia (dengan gejala
mekorismus, hiptoni otot, lemah, bradikardi, perubahan pada elektro kardiagram)
b.
Hipoglikemia.
c.
Introleransi laktosa sekunder,
sebagai akibat defisiensi enzim laktase karena kerusakan vili mukosa, usus
halus.
d.
Kejang terutama pada dehidrasi
hipertonik.
e.
Malnutrisi energi, protein,
karena selain diare dan muntah, penderita juga mengalami kelaparan.
(Sumber : Arita Murwani, 2011)
5.
Pemeriksaan Penunjang
1.
Pemeriksaan feses:
1.
Makroskopik dan mikroskopik
2.
Biakan kuman
3.
Tes resitensi terhadap berbagai antibiotika
4.
Ph dan kadar gula, jika diduga ada intoleransi laktosa
2.
Pemeriksaan darah:
1.
Darah lengkap
2.
Pemeriksaan elektrolit, pH dan cadangan alkali (jika dengan
pemberian RL i.v. masih terdapat asidosis)
3.
Kadar ureum (untuk mengetahui adanya gangguan faal ginjal)
4.
Intubasi duodenal : pada diare kronik untuk mencari kuman
penyebab.
(Sumber : Sudaryat
Suraatmaja, 2007)
6.
Penatalaksanaan
1.
Rehidrasi sebagai prioritas utama terapi
Ada 4 hal yang penting diperhatikan agar dapat
memberikan rehidrasi yang cepat dan akurat yaitu:
a.
Jenis cairan yang hendak digunakan. Pada saat ini
cairan Ringger Laktat merupakan cairan pilihan karena tersedia cukup banyak di
pasaran meskipun jumlah cairannya rendah bila dibandingkan kadar kalium tinja.
b.
Jumlah cairan yang hendak diberikan. Pada prinsipnya
jumlah cairan yang hendak diberikan sesuai jumlah cairan yang keluar dari
badan.
c.
Berdasarkan skoring keadaan klinis sebagai berikut:
1.
Rasa haus atau muntah = 1
2.
BP sitolik 60-90 mmHg = 1
3.
BP sistolik <60 mmHg = 2
4.
Frekuensi nadi >120 x/menit = 1
5.
Kesadaran apatis = 1
6.
Kesadaran somnolen, sopor atau koma = 2
7.
Frekuensi nafas >30 x/menit = 1
8.
Facies clolerica = 2
9.
Vox cholerica = 2
10. Turgon
kulit menurun =1
11. Washer
womwn’s hand = 1
12. Ekremitas
dingin = 1
13. Sianosis
= 2
14. Usia
50-60 tahun = 1
15. Usia
>60 tahun = 2
16. Kebutuhan
cairan = Skor/15 x 10% x kgBB x 1 ltr
d.
Jalan masuk atau cara pemberian cairan. Rute pemberian
cairan pada orang dewasa meliputi oral dan intravena.
e.
Jadwal rehidrasi inisial yang dihitung berdasarkan BJ
plasma atau sistem skor diberikan dalam waktu 2 jam dengan tujuan untuk
mencapai rehidrasi optimal secepat mungkin.
2.
Tata kerja terarah untuk mengindentifikasi penyebab
infeksi
Untuk mengetahui penyebab infeksi biasanya dihubungkan
dengan keadaan klinis diare tetapi penyebab pasti dapat diketahui melalui
pemeriksaan biakan tinja disertai dengan pemeriksaan urine lenkap dan tinja
lengkap.
Secara klinis diare karena infeksi akut digolongkan
sebagai berikut:
a.
Koleriform, diare dengan tinja terutama terdiri atas
cairan saja.
b.
Disentriform, diare dengan tinja bercampur lendir
kental kadang darah.
Memberikan terapi simptomatik
3.
Terapi simptomatik harus benar-benar dipertimbangkan kerugian dan
keuntungannya.
Antimotilitas usus seperti loperamid akan memperburuk diare yang diakibatkan
oleh bakteri entero – invasif karena memperpanjang waktu kontak bakteri dengan
epitel usus yang seyogyanya cepat dieliminasi.
4.
Menurut Suharyono (1994) terapi simptomatik meliputi :
a.
Obat – obat diare : obat yang khasiat menghentikan diare
secara cepat seperti antispasmodik atau spasmolitik atau opium
(papeverin, Extractum Beladona, loperamid, kodein, dan sebagainya) justru akan
memperburuk keadaan karena akan menyebabkan terkumpulnya cairan di lumen usus
dan akan menyebabkan terjadinya perlipatgandaan (overgrowth) bakteri,
gangguan digesti dan absorpsi.
Obat-obat ini hanya berkhasiat untuk menghentikan
peristaltik saja, tetapi justru akibatnya sangat berbahaya karena baik si
pemberi obat maupun penderita akan terkelabui. Diarenya terlihat tidak ada lagi
tetapi perut akan bertambah kembung dan dehidrasi bertambah berat yang akhirnya
dapat berakibat fatal untuk penderita.
b.
Adsorbents : Obat-obat adsorbents seperti kaolin,
pektin, charcoal (norit, tabonal), bismuth subbikarbonat dan sebagainya, telah
dibuktikan tidak ada manfaatnya.
c.
Stimulans : Obat-obat stimulans seperti adrenalin,
nikotinamide dan sebagainya tidak akan memperbaiki renjatan atau dehidrasi
karena penyebab dehidrasi ini adalah kehilangan cairan (hipovolemik syok)
sehingga pengobatan yang paling tepat adalah pemberian cairan secepatnya.
d.
Antiemetik : Obat antiemetik seperti chlorpromazine
(largactil) terbukti selain mencegah muntah juga dapat mengurangi sekresi dan
kehilangan cairan bersama tinja. Pemberian dalam dosis adekuat (sampai dengan 1
mg/kgbb/hari) kiranya cukup bermanfaat.
e.
Antipiretik : Obat antipiretik seperti preparat
salisilat (asetosal, aspirin) dalam dosis rendah (25 mg/tahun/kali) ternyata
selain berguna untuk menurunkan panas yang terjadi sebagai akibat dehidrasi
atau panas karena infeksi penyerta, juga mengurangi sekresi cairan yang keluar
bersama tinja.
f.
Memberikan terapi definitive. Terapi kausal dapat
diberikan pada infeksi:
1.
Kolera-eltor:
Tetrasiklin atau Kontrimoksasol atau Kloramfenikol
2.
V. Parahaemolyticus, E. Coli, tidak memerlukan terapi
spesifik
3.
Aureus: Kloramfenikol
4.
Salmonellosis: Ampisilin atau Kontrimoksasol atau
golongan Quinolon
5.
Shigellosis: Ampisilin atau Kloramfenikol
6.
Helicobacter: Eritromisin
7.
Amebiasis: Metronidazol atau Trinidazol atau
Secnidazol
8.
Giardiasis: Quinacrine tau Chloroquineitiform atau
metronidazol
9.
Balantidiasis: Tetrasikln
10. Candidiasis:
Mycostatin
11. Virus:
simtomatik dan suportif
7.
Konsep Asuhan Keperawatan pada pasien diare
A. Pengkajian
1. Identitas pasien
Terdiri dari: nama,
umur, alamat, jenis kelamin, agama, status, pendidikan terakhir, pekerjaan.
2. Identitas penangung jawab
3. Pola fungsi
a. Aktivitas atau istirahat:
Gejala:
a. Kelelahan, kelemahan, atau malaise
b. Insomnia, tidak tidur semalam karena diare
c. Gelisah dan ansietas
b. Sirkulasi
Tanda:
a. Takikardia
b. Hipotensi
c. Kulit atau membrane mukosa: turgor jelek,
kering, lidah pecah-pecah
c. Integritas ego
Gejala: Ansietas, ketakutan, emosi kesal, perasaan tak
berdaya
Tanda: Respon menolak: perhatian menyempit,
depresi
d. Eliminasi:
Gejala:
a. Tekstur feses cair, berlendir, disertai darah,
bau anyir atau busuk
b. Tenemus, nyeri atau kram abdomen
Tanda:
a. Bising usus menurun atau meningkat
b. Oliguria atau anuria
e. makanan dan cairan:
a. haus
b. anoreksia
c. mual atau muntah
d. penurunan berat badan
e. toleransi diet atau sensitive terhadap buat
segar, sayur, produk susu, makanan berlemak
tanda:
a. penurunan lemak atau supkutan masa otot
b. kelemahan tonus otot, turgor kulit buruk
c. membrane mukosa pucat, luka
f. hygiene:
tanda:
a. ketidak mampuan mempertahankan perawatan diri
b. badan berbau
g. nyeri dan kenyamanan
gejala:
nyeri atau nyeri
tekan kanan bawah
tanda:
nyeri tekan abdomen atau distensi
(Doenges dkk, 2000)
B. Diagona keperawatan
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan
kehilangan cairan berlebih melalui feses
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan gangguan absobrsi nutrient dan peningkatan peristaltic usus
3. Resiko gangguan integritas kulit perianal berhubungan
dengan peningkatan frekuensi diare
C. Intervensi
No
|
Diagnosa keperawatan
(NANDA)
|
NOC
|
NIC
|
RASIONAL
|
1.
|
Kekurangan volume cairan
berhubungan dengan kehilangan cairan berlebih melalui feses
|
Tujuan:
Keseimbangan
cairan dapat dipertahankan dalam batas normal memperhatikan volume cairan
adekuat. Devisit cairan dan elektrolit teratasi.
Kriteria
hasil:
a.
Membrane mukosa
lembab
b.
Turgor kulit baik
|
Intervensi:
Mandiri
1.
Observasi
tanda-tanda vital
2.
Observasi
tanda-tanda dehidrasi
Kolaborasi
1.
Pemeriksaan
laboratorium esuai program elektrolit, Ht, Ph, serum algumin
2.
Pemberian carian
dan elektrolit sesuai protocol ( dengan oralit dan cairan parental )
3.
Pemberian obat
sesuai indikasi
|
1.
Hipotensi,
takikardi, demam dapat menunjukan respon terhadap dan atau efek kehilangan
cairan
2.
Populasi feses yang
cepat melalui usus mengurangi absor air volume sirkulasi yang rendah
menyebabkan kekeringan membrane mukosa dan rasa haus
1.
Menentukan
kebutuhan pengatian dan keefektifan terapi berikan obat sesuai indikasi
antidiare
2.
Mempertahankan
istirahat usus akan memerlukan pergantian cairan untuk memperbaiki kehilangan
atau anemia
3.
Menurunkan
kehilangan cairan dari usus.
|
2
|
Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan menurunnya intake dan menurunnya absorsi makanan dan
cairan
|
Tujuan :
a.
Gangguan pemenuhan
nutrisi teratasi
b.
Berat badan dalam
batas normal
Kiteria hasil :
a.
Diet habis 1 porsi
yang disediakan
b.
Tidak ada mual
muntah
c.
Berat badan
meningkat atau sesuai umur
|
Intervensi :
1.
Kaji pola nutrisi
2.
Timbang berat badan
klien
3.
Berikan diet dalam
porsi kecil tapi sering
Kolaborasi :
1.
Pemberian nutrisi
parental sesuai indikasi
2.
Berikan obat sesuai
indikasi
|
1.
Memberikan
informasi tentang kebutuhan nutrisi
2.
Memenuhi kebutuhan
nutrisi
|
3
|
Resiko gangguan intergritas kulit parianal
berhubungan dengan peningkatan diare
|
Tujuan :
Gangguan intergritas kulit teratasi, menunjukan tanda – tanda kerusakan kulit yang ditandai dengan kulit
utuh, tidak lecet dan tidak merah.
|
1.
Kaji kerusakan kulit dan iritasi
setiap BAB .
2.
Ganti popok atau kain pengalas
dengan sering setiap habis BAB/ BAK.
3.
Bersihkan bokong dengan perlahan
– lahan dengan sabun lunak non alkalis.
|
1.
Mengetahui
kerusakan kulit.
2.
Menghindari iritasi
3.
Menghindari kulit
lecet.
|
D. Implementasi
Implementasi merupakan
komponen dari proses keperawatan, dimana tindakan yang diperlukan untuk
mencapai tujuan dan hasil yang diperkirakan dari asuhan keperawatan yang
dilakukan dan diselesaikan. Implementasi mencakup : melakukan, membantu dan
mengarahkan kinerja aktivitas sehari - hari, memberikan arahan keperawatan
untuk mencapai tujuan yang berpusat pada klien dan mengevaluasi kinerja anggota
staf dan mencatat serta melakukan pertukaran informasi yang relevan dengan
perawat kesehatan berkelanjutan dari klien. Selain itu juga implementasi
bersifat berkesinambungan dan interaktif dengan komponen lain dari proses
keperawatan. Komponen implementasi dari proses keperawatan mempunyai lima tahap
yaitu : mengkaji ulang klien, menelaah dan memodifikasi rencana asuhan yang
sudah ada, mengidentifikasi area bantuan, mengimplementasikan intervensi
keperawatan dan mengkomunikasikan intervensi perawat menjalankan asuhan
keperawatan dengan menggunakan beberapa metode implementasi mencakup supervise,
konseling, dan evaluasi dari anggota tim perawat kesehatan lainnya.
Setelah implementasi, perawat
menuliskan dalam catatan klien deskriptif singkat dari pengkajian keperawatan.
Prosedur spesifik dan respon dari klien terhadap asuhan keperawatan. Dalam
implementasi dari asuhan keperawatan mungkin membutuhkan pengetahuan tambahan
keterampilan keperawatan dan personal.
E.
EVALUASI
Evaluasi merupakan proses
keperawatan yang mengukur respon klien terhadap tindakan keperawatan dan
kemajuan klien kearah pencapaian tujuan. Perawat mengevaluasi apakah prilaku
atau respon klien mencerminkan suatu kemunduran atau kemajuan dalam diagnosa
keperawatan atau pemeliharaan status yang sehat. Selama evaluasi perawatan
memutuskan apakah langkah proses keperawatan sebelumnya telah efektif dengan
menelaah respon klien dan membandingkannya dengan prilaku yang disebutkan dalam
hasil yang diharapkan. Selama evaluasi perawat secara kontinyu perawat
mengarahkan kembali asuhan keperawatan kearah terbaik untuk memenuhi kebutuhan
klien.
Evaluasi positif terjadi
ketika hasil yang dinginkan terpenuhi menemukan perawat untuk
menyimpulkan bahwa dosis medikasi dan intervensi keperawatan secara efektif
memenuhi tujuan klien untuk meningkatkan kenyamanan. Evaluasi negative atau
tidak di inginkan menandakan bahwa masalah tidak terpecahkan atau terdapat
masalah potensial yang belum diketahui. Perawat harus menyadari bahwa evaluasi
itu dinamis dan berubah terus tergantung pada diagnosa keperawatan dan kondisi
klien. Hal yang lebih utama evaluasi harus spesifik terhadap klien. Evaluasi
yang akurat mengarah pada kesesuaian revisi dan rencana asuhan yang tidak
efektif dan penghentian terapi yang telah menunjukan keberhasilan.
PATHWAY
|
|
|
|




|
|
![]() |
BAB III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya, maka
dapat ditarik kesimpulan bahwa Penyakit
gastroenteritis atau diare merupakan salah satu penyakit penting karena
sering dialami masyarakat dan menjadi penyebab utama kesakitan dan kematian,
terutama pada anak – anak di neara miskin. Hal ini tercermin dari banyaknya
pasien gastroenteritis yang keluar masuk rumah sakit. Diagnose meliputi :
1.
Kekurangan volume
cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebih melalui feses
2.
Perubahan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan absobrsi nutrient dan
peningkatan peristaltic usus
3.
Resiko gangguan
integritas kulit perianal berhubungan dengan peningkatan frekuensi diare
2.
Saran
1. Saran Bagi Mahasiswa Keperawatan
Seluruh mahasiswa keperawatan agar meningkatkan
pemahamannya terhadap penyakit DIARE sehingga dapat dikembangkan dalam tatanan
layanan keperawatan.
2. Saran Bagi Perawat
Diharapkan agar perawat bisa menindaklanjuti
penyakit tersebut melalui kegiatan riset sebagai dasar untuk pengembangan
Evidence Based Nursing Practice di Lingkungan Rumah Sakit dalam seluruh tatanan
layanan kesehata
3. Saran Bagi Institusi Pendidikan
Bagi institusi pendidikan hendaknya menyediakan
buku – buku yang ada kaitannya dengan penyakit DIARE, sehingga menambah refrensi bagi mahasiswa
keperawatan.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Ardiansyah, Muhammad. 2012.Medikal
Bedah Untuk Mahasiswa.Jogyakarta : Diva Press
2.
Donna L. Wong et al, 2009. Wong Buku Ajar
Keperawatan Pediatrik. Edisi 6. Volume 2. Jakarta: EGC
3.
Hidayat, A.Aziz Alimul. 2006. Pengantar ilmu
keperawatan anak 2. Jakarta : Salemba Medika
4.
Mansjoer, Arief et al. 2000. Fakultas
Kedokteran UI Kapita Selekta Kedokteran.Edisi 3 Jillid 2 Jakarta :
Media Aesculapius
5.
Murwani, Arita. 2011. Perawatan
Pasien Penyakit Dalam.Yogyakarta: Gosyen Publishing
6.
NANDA International.2009. Diagnosa Keperawatan NANDA 2009-2011.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EG
8.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjMP0mdg-mhhSIfErZ0Eg8TlNsR2OgCw76UoOwY-dTTQhpmMf26LRDxvwYwJbtkt37LJfKIbw55g0ok6zoy_Dt4-WSgEv_0qAmE3fCQceXnbJdM_XkvqzYIWLRXrosAoSKPk91x-RDLydM/s1600/Patofisiologi+dan+Pathways+leukemia+ALL+%2528Acute+Lymphoid+Leukemia%2529.PNG
Tidak ada komentar:
Posting Komentar