BAB I
PENDAHULUAN
A.
PENDAHULUAN
Kerap kali
kita jumpai pada saat mengevakuasi korban kecelakaan / korban bencana alam
seperti tanah longsor, gempa bumi, bisanya di pergunakan sebuah penopang kayu /
besi & sebagainya di bagian tubuh tertentu yg diduga terjadi syok, patah
tulang, ataupun retak. Benda tersebut ialah balut bidai.
Balut bidai
ialah penanganan umum trauma ekstremitas / imobilisasi dari lokasi trauma
dgn memanfaatkan penyangga misalnya splinting (spalk). Balut bidai ialah
jalinan bilah (rotan, bambu) sebagai kerai (buat tikar, tirai penutup pintu,
belat, dsb) / jalinan bilah bambu (kulit kayu randu dsb) buat membalut tangan
patah dsb.
B.
RUMUSAN
MASALAH
1. Bagaimana
pengertian balut bidai
2. Bagaiamana
macam macam balut bidai
C.
TUJUAN
1. Mahasiswa
bisa mengetahui pengertian blut bidai
2. Mahasiswa
bisa mengetahui macam-macam balut bidai
3. Mahasiswa
bisa mempraktekan balut bidai
BAB II
PEMBAHASAN
A.
DEFINISI
Balut bidai adalah
tindakan memfiksasi /mengimobilisasi bagian tubuh yang mengalami cidera dengan menggunakan
benda yang bersifat kaku maupun fleksibel sebagai fiksator /imobilisator.
Balut bidai adalah
pertolongan pertama dengan pengembalian anggota tubuh yang dirsakan cukup
nyaman dan pengiriman korban tanpa gangguan dan rasa nyeri ( Muriel Steet ,1995
).
Balut bidai adalah suatu
cara untuk menstabilkan /menunjang persendian dalam menggunakan sendi yang
benar /melindungi trauma dari luar ( Barbara C, long ,1996)
B.
TUJUAN PEMBIDAIAN
1.
Mencegah gerakan bagian yang
stabil sehingga mengurangi nyeri dan mencegah kerusakan lebih lanjut.
2.
Mempertahankan posisi yang
nyaman.
3.
Mempermudah transportasi
organ
4.
Mengistirahatkan bagian tubuh
yang cidera.
5.
Mempercepat penyembuhan.
6. Memperrtahankan posisi bagian tulang yang patah
agar tidak bergerak
7. Memberikan tekanan
8. Melindungi bagian tubuh yang cedera
9. Memberikan penyokong pada bagian tubuh yang
cedera.
10. Mencegah terjadinya pembengkakan
11. Mencegah terjadinya kontaminasi dan komplikasi
12. Memudahkan dalam transportasi penderita.
C. TUJUAN PEMBALUTAN
1.
Menghindari bagian tubuh agar tidak bergeser dari
tempatnya
2.
Mencegah terjadinya pembengkakan
3.
Menyokong bagian badan yang cidera dan mencegah agar
bagian itu tidak bergeser
4.
Menutup agar tidak kena cahaya, debu dan kotoran
5.
Menahan
sesuatu seperti :menahan penutup luka, menahan bidai
menahan bagian yang cedera dari gerakan dan geseran, menahan rambut kepala di tempat
menahan bagian yang cedera dari gerakan dan geseran, menahan rambut kepala di tempat
6.
Memberikan
tekanan, seperti terhadap :kecenderungan timbulnya perdarahan atauhematoma,
adanya ruang mati (dead space)
7.
Melindungi
bagian tubuh yang cedera.
8.
Memberikan
"support" terhadap bagian tubuh yang cedera
D. INDIKASI
PEMBIDAIAN
1. Fraktur (Patah Tulang)
a. Fraktur terbuka yaitu tulang yang patah mencuat keluar melalui
luka yang terdapat pada kulit.
b. Fraktur tertutup yaitu tulang yang patah tidak sampai keluar
melalui luka yang terdapat di kulit.
Kemungkinan patah tulang
harus selalu dipikirkan setiap terjadi kecelakaan akibat benturan yang keras.
Apabila ada keraguan, perlakuan korban sebagai penderita patah tulang. Pada
fraktur terbuka tindakan pertolongan harus hati-hati, karena selain bahaya
infeksi gerakan tulang yang patah itu dapat melukai pembuluh-pembuluh darah
sekitarnya sehingga terjadi perdarahan baru.
2. Terkilir
Terkilir merupakan
kecelakaan sehari-hari, terutama di lapangan olah raga. Terkilir disebabkan
adanya hentakan yang keras terhadap sebuah sendi, tetapi dengan arah yang
salah. Akibatnya, jaringan pengikat antara tulang (ligamen) robek. Robekan ini
diikuti oleh perdarahan di bawah kulit. Darah yang berkumpul di bawah kulit
itulah yang menyebabkan terjadinya pembengkakan.
Ada beberapa kemungkinan yang akan terjadi pada sendi yang mengalami terkilir :
Ada beberapa kemungkinan yang akan terjadi pada sendi yang mengalami terkilir :
a. Terjadi peregangan dan memar pada otot atau ligamen, jenis ini
digolongkan terkilir ringan.
b. Robekan pada ligamen, ditandai dengan rasa nyeri, bengkak dan
memar biasanya lebih berat dari pada jenis tang pertama. Jenis ini digolongkan
terkilir sedang.
c. Ligamen sudah putus total sehingga sendi tidak lagi stabil.
Biasanya terjadi perdarahan sekitar robekan, yang tampak sebagai memaryang
hebat.
3. Luka terbuka
4. Penekanan untuk menghentikan pendarahan
Kecurigaan fraktur bisa
dimunculkan jika salah satu bagian tubuh diluruskan.
1. Pasien merasakan tulangnya terasa patah /mendengar bunyi “krek”
2.
Ekstremitas yang cidera
lebih pendek dari yang sehat /mngalami angulasi abnormal.
3.
Pasien tidak mampu
menggerakkan ekstremitas yang cidera
4.
Posisi ekstremitas yang
abnormal
5.
Memar
6.
Bengkak
7.
Perubahan bentuk
8.
Nyeri gerak aktif dan
pasif
9.
Nyeri sumbu
10. Pasien merasakan sensasi seperti jeruji ketika menggerakkan
ekstremitas yang mengalami k. cidera (krepitasi )
11. Fungsiolaesa
12. Perdarahan bisa ada /tidak.
13. Hilangnya denyut nadi /rasa raba pada distal lokasi cidera.
14. Kram otot sekitar lokasi cidera.
E. KONTRA INDIKASI
1.
Pembidaian baru boleh
dilaksanakan jika kondisi saluran nafas, pernafasan dan sirkulasi penderita
sudah distabilkan. Jika terdapat gangguan sirkulasi dan atau gangguan yang
berat pada distal daerah fraktur, jika ada resiko memperlambat sampainya
penderita ke rumah sakit, sebaiknya pembidaian tidak perlu dilakukan.
2. Hipermobilitas
3. Efusi Sendi
4. Inflamasi
5. Fraktur
humeri dan osteoporosis
F.
PENANGANAN
BALUT DAN BIDAI
1.
Luka Terbuka
Pada
luka terbuka, terjadi cedera pada kulit yang menyebabkan jaringan di bawah
kulit tersebut mengalami paparan terhadap dunia luar, sehingga risiko
terjadinya infeksi meningkat. Contoh dari luka terbuka antara lain luka tusuk,
luka tembak/tembus, luka sayat, luka serut/cakar, luka lecet/ laserasi, dan
luka amputasi.
Penanganan
pada luka terbuka perlu dilakukan segera terutama jika disertai perdarahan yang
parah karena dapat menyebabkan syok. Beberapa hal yang harus
diperhatikan sebelum melakukan penanganan luka adalah:
a. Pastikan kondisi lingkungan sekitar
penolong dan korban aman. Jika kondisi tidak aman (di tengah jalan, reruntuhan,
dll) segera pindahkan korban ke tempat yang aman.
b. Gunakan alat pelindung diri (APD)
seperti masker dan sarung tangan
c. Pastikan tidak ada gangguan pada
pernapasan dan sirkulasi pasien
d. Jika terlihat perdarahan yang parah,
segera aktifkan SPGDT dengan menghubungi ambulans
Setelah itu, mulai dilakukan
penanganan pada luka dengan langkah-langkah berikut:
a. Pastikan lokasi dan jumlah bagian
tubuh yang terluka dengan memeriksa keseluruhan tubuh korban (expose)
b. Jika memungkinkan tidak melukai
korban lebih jauh, lepaskan perhiasan, jam tangan, atau aksesoris lainnya pada
bagian tubuh korban yang terluka karena dapat terjadi pembengkakan dan
mengganggu aliran darah
c. Bersihkan luka dengan mengalirkan
air bersih hingga tidak ada kotoran yang menempel
d. Lakukan kontrol perdarahan agar
perdarahan berhenti. Berikut adalah beberapa cara untuk mengontrol perdarahan:
1) Penekanan Langsung (Direct Pressure)
Penekanan langsung
pada luka adalah
cara yang paling
baik untuk menghentikan perdarahan, kecuali pada luka di
mata. Cara untuk melakukan penekanan langsung adalah dengan menggunakan kasa
atau kain yang diletakkan di atas luka lalu ditekan. Jika perdarahan tidak
berhenti, tambahkan kain atau kasa baru di atas yang lama kemudian ditekan
kembali. Penekanan langsung dapat juga dilakukan dengan menggunakan
tangan penolong bila memang tidak ada kain/kassa. Penekanan tidak hanya
dilakukan dengan kuat, tetapi juga dalam waktu yang cukup lama untuk
menghentikan perdarahan (sekitar 20 menit atau lebih). Jika perdarahan tidak
berhenti, dapat dilakukan balut tekan dengan cara menaruh benda padat seperti
kasa tebal di atas luka kemudian dibalut.
2) Elevasi
Jika luka terdapat di area
tangan/kaki, tinggikan posisi tangan/kaki hingga di atas ketinggian jantung
korban. Hal ini dilakukan untuk mengurangi aliran darah ke area luka sehingga
perdarahan dapat melambat. Cara ini tidak boleh dilakukan pada korban dengan
patah tulang/cedera karena dapat memperparah kondisi patah tulang/cederanya.
3) Penekanan dengan Jari
Penekanan dengan ujung permukaan
jari dilakukan di pembuluh darah sebelum area luka untuk mengurangi aliran
darah ke area luka.2,4 Lokasi-lokasi penekanan pembuluh darah dapat
dilihat pada gambar 1.

Gambar 1. Lokasi penekanan dengan jari1
Elevasi
dan penekanan dengan jari adalah cara yang kurang efektif untuk menghentikan
perdarahan, tetapi dapat membantu dalam prosesnya. Oleh karena itu, ketiga cara
di atas dilakukan secara bersamaan seperti ditunjukkan pada gambar 2.

Gambar 2. Cara mengontrol perdarahan
4) Torniket (Tourniquets)

a) Lingkarkan kain 5-10cm di atas area
luka kemudian diikat
b) Letakkan batang kayu kecil atau
pensil di bawah simpul ikatan
c) Kecangkan ikatan kain dengan memutar
batang kayu hingga perdarahan berhenti
d) Ikat ujung batang kayu agar kain
tidak kembali kendur
Gambar 3. Cara memasang torniket
Tiap 10-15 menit, torniket dapat
dikendurkan selama 1-2 menit agar aliran darah tidak sepenuhnya hilang di area
luka dan bawahnya.
2.
Luka
bakar
Luka
bakar dapat terjadi akibat suhu yang sangat tinggi, paparan kimia, radiasi (UV,
terapi) dan juga dari listrik.4 Penanganan luka bakar yang dapat
dilakukan adalah:
a. Jauhkan sumber panas dari korban
b. Dinginkan luka bakar dengan cara
mengalirkan air atau merendam area luka bakar jika memungkinkan selama 20 menit
seperti pada gambar 17
c. Lepaskan pakaian dan aksesoris lainnya
seperti jam tangan dan cincin yang berada di sekitar area luka bakar dengan
hati-hati
d. Jika korban terluka parah, merasa
sangat kesakitan, melibatkan mata atau lebih dari setengah lengannya segera
aktifkan SPGDT dengan menelepon ambulans terdekat
e. Balut area luka bakar dengan
pembungkus plastik bersih seperti pada gambar
18

Gambar
17. Pendinginan
area luka bakar
|
Gambar
18. Membungkus
area luka bakar
|
|
Beberapa hal yang tidak boleh
dilakukan dalam penanganan luka bakar:
a. Memecahkan bula atau mencabut kulit
yang terkelupas
b. Melepaskan secara paksa apapun yang
sudah melekat pada kulit akibat luka bakar
c. Mengoleskan krim, pasta gigi,
mentega, atau apapun ke area luka bakar karena dapat menyebabkan infeksi
Penggantian Balutan
Dalam mengganti balutan, perawat harus
menggunakan APD. Balutan atau kasa yang menempel pada luka dapat dilepas tanpa
menimbulkan sakit jika sebelumnya dibasahi dengan larutan salin atau bial
pasien dibiarkan berandam selama beberapa saat dalam bak rendaman. Pembalut
sisanya dapat dilepas dengan hati-hati memakai forseps atau tangan yang
menggunakan sarung tangan steril. Kemudian luka dibersihkan dan didebridemen
untuk menghilangkan debris, setiap preparat topikal yang tersisa, eksudat, dan
kulit yang mati. Selama penggantian balutan ini, harus dicatat mengenai warna,
bau, ukuran, dan karakteristik lain dari luka.(Smeltzer, 2001)
3.
Venous
ulcer
Strategi
utama dalam penatalaksanaan Insufisiensi Vena dan Hypertensi Vena (sebagai
penyebab utama venous ulcer) adalah:
a. Terapi
Kompressi (Compression Therapy).
Terapi
kompresi merupakan suatu modalitas yang bertujuan untuk memberikan tekanan
eksternal pada ekstrimitas bawah untuk memfasilitasi aliran balik vena.
Modalitas ini telah digunakan sejak abad ke 17 (dalam bentuk stocking tali yang
keras). Pada abad ke 21 terapi kompressi measih menjadi pilihan utama dalam
manajemen venous ulcer (Cullum, et al 2003; Kantor and Margolis, 2003). Dan
dapat pula diaplikasikan pada LEVD yang disertai dengan dermatitis akut dan
cellulitis (WOCN Society, 2005). Mekanisme kerja terapi kompressi pada dasarnya
adalah memberikan tekanan dari mata kaki ke lutut dan memberikan tekanan untuk
mensuport calf muscle pump saat ambulasi dan dorsofleksi. Oleh karena itu
terapi ini meningkatkan aliran balik vena. Sebagai tambahan terapi kompresi
memberikan tekanan pada jaringan superficial sehingga meningkatkan tekanan
interstisial sehingga mencegah kebocoran plasma yang pada akhirnya akan
mengurangi edema.
Besar
tekanan atau Level of Compression yang diberikan merupakan factor penting dalam
terapi. Besar tekanan merupakan jumlah tekanan yang diberikan terhadap
jaringan. Umumnya besar tekanan berkisar antara 20-60 mmHg pada mata kaki.
Tekanan sebesar 30-40 mmHg pada mata kaki biasa digunakan untuk venous ulcer.
Tekanan sebesar ini dilaporkan efektif dalam mengontrol hypertensi vena dan
mencegah pembentukan edema tungkai pada kebanyakan pasien dengan venous disease
(de Arujo et al, 2003; Kunimot, 2001b; Paquette and Falanga, 2002; Phillips,
200).
b. Peninggian
tungkai (Limb elevation).
Peninggian
tungkai merupakan prosedur yang sangat sederhana namun sangat efektif dalam
meningkatkan aliran balik vena dengan memanfaatkan gaya gravitasi. Modalitas
ini sangat penting bagi pasien dengan venous ulcer bahkan esensisal bagi pasien
dengan venous ulcer yang tidak dapat mentoleransi terapi kompressi. Pasien
sebaiknya dianjurkan untuk meninggikan kakinya (lebih tinggi dari jantung)
selama 1-2 jam, dua kali sehari (lebh baik sebelum tidur).
Selanjutnya
pasien juga dianjurkan untuk menghindari berdiri lama atau duduk lama dengan
posisi kaki menggantung (dependent). Bila harus berdiri atau duduk lama, maka
sebaiknya disertai dengan “jalan-jalan ringan”. Untuk memastikan pasien
melaksanakan modalitas ini dapat dibuatkan ‘leg-up chart’ dan dievaluasi setiap
kunjungan (Kunimot, 2001b; Wipke-Tevis and Sae-Sia, 2004).
4.
Luka
kanker
Berikut beberapa tindakan yang dapat dilakukan perawat
untuk mengendalikan gejala dalam perawatan luka kanker;
a.
Eksudat yang berlebihan; dapat
digunakan balutan yang menyerap eksudat banyak seperti hidroselulosa (Aquacel),
foam, gammge dan lainnya. Usahakan balutanyang digunakan tidak melekat pada
luka untuk menghindari perdarahan ketika membuka balutan. Eksudat juga akan
menyebabkan kulit sekitar luka lecet, untuk itu dapat digunakan film barrier
atau cream (zink cream atau metcovazin cream dll).
b.
Bau tidak sedap; ditimbulkan akibat
infeksi bakteri. Balutan yang dapat digunakan adalah yang mengandung silver
yang dapat mengurangi pertumbuhan bakteri, dan efektif mengontrol bau. Charcoal
dressing (Carboflex dll) juga dapat digunakan untuk mengontrol bau. Jika bahan
yang digunakan terlalu mahal maka dapat digunakan metode alami menggunakan madu
asli atau pasta gula yang dapat mencegah pertumbuhan bakteri (6). Penggunakan
aromaterapi untuk lingkungan sekitar juga dapat membantu mengendalikan bau
tidak sedap dan dapat meningkatkan kenyamanan pasien.
c.
Nyeri; disebabkan kerusakan saraf
akibat kanker atau akibat dressing yang melekat pada kulit. Obat anti nyeri/
analgetik dapat diberikan sebelum perawatan dan memilih balutan yang tidak
lengket pada luka akan membantu mengurangi nyeri pada pasien luka kanker.
d.
Perdarahan; diakibatkan oleh sel
kanker yang merusak pembuluh darah kapiler. Memilih balutan/dressing yang tidak
melekat pada luka akan mengurangi resiko perdarahan ketika membuka balutan.
Selain itu juga dapat digunakan balutan yang mengandung kalsium alginat
(kaltostat, suprasorb A, seasorb dll) yang dapat menghentikan perdarahan minor.
Jika perdarahan tidak berhenti maka dapat digunakan adrenalin dan tekan lembut
pada daerah yang perdarahan
e.
Gatal; disebakan oleh kulit yang
meregang dan ujung saraf yang teriritasi oleh kanker. Dapat diberikan anti
histamin, TENS machine ( membantu merangsang otak mengeluarkan
endorphin/painkiller), menggunakan lembaran hidrogel untuk menghidrasi kulit
dan krim mentol
G. JENIS PEMBIDAIAN
1. Tindakan pertolongan sementara
a.
Dilakukan ditempat cidera
sebelum ke rumah sakit
b.
Bahan untuk bidai bersifat
sederhana dan apa adanya
c.
Bertujuan untuk mengurangi
rasa nyeri dan meghindarkan kerusakan yang lebih berat.
d. Bisa dilakukan oleh siapapun yang sudah mengetahui prinsip dan
tehnik dasar pembidaian
2.
Tindakan pertolongan
definitif
a.
Dilakukan di fasilitas
layanan kesehatan, klinik / RS
b.
Pembidaian dilakukan untuk
proses penyembuhan fraktur /dislokasi menggunakan alat dan bahan khusus sesuai
standar pelayanan harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang sudah terlatih.
H.
JENIS-JENIS BIDAI
1. Bidai keras: Merupakan bidai yang paling baik dan sempurna dalam
kesdaan darurat.kesulitannya adalah mendapatkan bahan yang mempunyai syarat
dilapangan. Contoh pada pasien fraktur tulang

2. Bidai Traksi: Bidai bentuk jadi dan berfariasi tergantung dari
pembuatannya hanya dipergunakan oleh tenaga yang terlatih khusus umumnya
dipakai pada patah tulang paha. Contoh : fraktur tulang paha.

3.
Bidai improvisasi: Bidai
yang cukup dibut dengan bahan cukup kuat dan ringan untuk menopang
,pembuatannya sangat tergantung dari bahan yang tersedia dan kemampuan
improvisasi si penolong. Contoh :pasien luka kecelakaan
4. Gendongan /belat dan bebat: Pembidaian dengan menggunakan pembalut
umumnya dipakai misalnya dan memanfaatkan tubuh penderita ebagai sarana untuk
menghentikan pergerakan daerah cidera contoh pada pasien fraktur pada tangan

I.
MACAM BIDAI
1.
Mitela

a.
Bahan mitela terbuat dari
kain berbentuk segitiga sama kaki dengan berbagai ukuran. Panjang kaki antara
50-100 cm.
b.
Pemabalutan ini
dipergunakan pada bagian kaki yang berbentuk bulat atau untuk menggantung
bagian tubuh yang cedera.
c.
Pembalutan ini bisa
dipakai pada cedera dikepala, bahu, dada, siku, telapak tangan dan kaki,
pinggul serta untuk menggantung lengan.
2.
Dasi
a.
Pembalut ini adalah mitela
yang dilipat-lipat dari satu sisi segitiga agar menjadi beberapa lapis dan
bentuk seperti pita dengan kedua ujung-ujungnya lancip dan lebarnya antara 5-10
cm.
b.
Pembalut ini bisa dipakai
pada saat membalut mata, dahi rahang, ketiak, lengan, siku, paha, serta lutut
betis, dan kaki yang terkilir.
3.
Pita (Gulungan)
a.
Pembalut ini dapat dibuat
dari kain katun, kain kasa, bahan elastic. Bahan yang paling sering adalah dari
kasa karena mudah menyerap air, darah, dan tidak mudah bergeser (kendur).
b.
Macam-macam pembalut yang
digunakan adalah sebagai berikut;
1)
Lebar 2,5 cm : untuk
jari-jari
2)
Lebar 5 cm : untuk leher
dan pergelangan tangan.
3)
Lebar 7,5 cm : untuk
kepala, lengan atas dan bawah, betis dan kaki.
4)
Lebar 10 cm : untuk paha
dan sendi panggul.
5)
Lebar 15 cm : untuk dada,
perut, punggung.
J.
PROSEDUR DASAR PEMBIDAIAN
1.
Persiapan penderita
a.
Menenangkan penderita
,jelaskan bahwa akan memberikan pertolongan.
b.
Pemeriksaan mencari tanda
fraktur /dislokasi
c.
Menjelaskan prosedur
tindakan yang dilakukan
d.
Meminimalkan gerakan
daerah luka. Jangan menggerakkan /memindahkan korban jika keadaan tidak
mendesak.
e.
Jika ada luka terbuka
tangani segera luka dan pendarahan dengan menggunakan cairan antiseptik dan
tekan perdarahan dengan kassa steril
f.
Jika mengalami deformitas
yang berat dan adanya gangguan pada denyut nadi ,sebaiknya dilakukan telusuran
pada ekstremitas yang mengalami deformitas. Proses pelurusan harus hati-hati
agar tidak memperberat .
g.
Periksa kecepatan
pengisian kapiler. Tekan kkuku pada ekstremitas yang cedera dengan ekstremitas
yang tidak cedera secara bersamaan. Periksa apakah pengembalian warna merah
secara bersamaan /mengalami keterlambatan pada ekstremitas yang cedera. Jika
terjadi gangguan sirkulasi segera bawa ke RS.Jika terjadi edema pada daerah
cedera ,lepaskan perhiasan yang dipakai penderita .
h. jika ada fraktur terbuka dan tampak tulang keluar. Jangan pernah
menyentuh dan membersihkan tulang tersebut tanpa alat steril karena akan
memperparah keadaan .
2. Persiapan alat
a.
Bidai dalam bentuk jadi
/bidai standart yang telah dipersiapkan
b.
Bidai sederhana (panjang
bidai harus melebihi panjang tulang dan sendi yang akan dibidai )contoh :papan
kayu, ranting pohon.
c.
Bidai yang terbuat dari
benda keras (kayu) sebaiknya dibalut dengan bahan yang lebih lembut (kain,
kassa, dsb)
d. Bahan yang digunakan sebagai pembalut pembidaian bisa berasal dari
pakaian atau bahan lainnya. Bahan yang digunakan harus bisa membalut dengan
sempurna pada ekstremitas yang dibidai namun tidak terlalu ketat karena dapat
menghambat sirkulasi
K. TINDAKAN PELAKSANAAN
PEMBIDAIAN
1.
Pembidaian meliputi 2
sendi, sendi yang masuk dalam pembidaian adalah sendi dibawah dan diatas patah
tulang .Contoh :jika tungkai bawah mengalami fraktur maka bidai harus bisa
memobilisasi pergelangan kaki maupun lutut
2.
Luruskan posisi anggota
gerak yang mengalami fraktur secara hati-hati dan jangan memaksa gerakan ,jika
sulit diluruskan maka pembidaian dilakukan apa adanya
3.
Fraktur pada tulang
panjang pada tungkai dan lengan dapat dilakukan traksi,tapi jika pasien
merasakan nyeri ,krepitasi sebaiknya jangan dilakukan traksi, jika traksi
berhasil segara fiksasi,agar tidak beresiko untuk menciderai saraf atau
pembuluh darah.
4.
Beri bantalan empuk pada
anggota gerak yang dibidai
5.
Ikatlah bidai diatas atau
dibawah daerah fraktur ,jangan mengikat tepat didaerah fraktur dan jangan
terlalu ketat
L. PRINSIP PEMBERIAN BALUT
BIDAI
1.
Prinsip pembalutan
a.
Rapat dan rapi
b.
Jangan terlalu longgar
c.
Ujung jari dibiarkan
terbuka untuk mengetahui funsi sirkulasi
d.
Bila ada keluhan terlalu
erat longgarkan
2.
Prinsip pembidaian
a.
Lakukan pembidaian pada
tempat dimana anggota badan mengalami cedera.
b.
Lakukan pembidaian pada
dugaan terjadinya patah tulang.
c.
Melewati minimal dua sendi
yang berbatasan
d.
Untuk pemasangan spalk
pada saat pemasangan infuse pada bayi dan anak-anak yang hiperaktivitas
M. PERALATAN
1.
Pembalut yang sesuai
(Mitella/dasi/pita)
2.
Spalk
3.
Plaster
4.
Kasa steril
5.
Handscoon dalam bak
instrumen
6.
Betadine dan cairan
desinfektan dalam kom
7.
Bengkok
8.
Korentang
9.
Gunting plester
N. KOMPLIKASI
1. Dapat menekan jaringan pembuluh darah / syaraf
dibawahnya bila bidai terlalu ketat
2. Bila bidai terlalu longgar masih ada gerakan
pada tulang yang patah
3. Menghambat aliran darah
4.
Memperlambat
transportasi penderita bila terlalu lama melakukan pembidaian
- Bula, kegagalan flap/graf
- Risiko perdarahan/hematima yang meningkatkan
- Infeksi gram negatif, infeksi Candida
- Nyeri dan perdarahan saat penggantian balutan
- Iritan/dermattis kontak alergi
O. KOMPARTEMEN
SINDROM
1.
DEFINISI
Sindroma
kompartemen adalah suatu kondisi dimana terjadi peningkatan tekanan intertisial
di dalam ruangan yang terbatas, yaitu di dalam kompartemen osteofasial yang
tertutup. Ruangan tersebut berisi otot, saraf dan pembuluh darah. Ketika
tekanan intrakompartemen meningkat, perfusi darah ke jaringan akan berkurang
dan otot di dalam kompartemen akan menjadi iskemik. Tanda klinis yang umum
adalah nyeri, parestesia, paresis, disertai denyut nadi yang hilang. (1,2,3)
Sindroma
kompartemen dapat diklasifikasikan menjadi akut dan kronik, tergantung dari
penyebab peningkatan tekanan kompartemen dan lamanya gejala. Penyebab umum
terjadinya sindroma kompartemen akut adalah fraktur, trauma jaringan lunak,
kerusakan arteri, dan luka bakar. Sedangkan sindroma kompartemen kronik dapat
disebabkan oleh aktivitas yang berulang misalnya lari.
2. ETIOLOGI
Penyebab
terjadinya sindroma kompartemen adalah tekanan di dalam kompartemen yang
terlalu tinggi, lebih dari 30 mmHg. Adapun penyebab terjadinya peningkatan
tekanan intrakompartemen adalah peningkatan volume cairan dalam kompartemen
atau penurunan volume kompartemen.
Peningkatan volume
cairan dalam kompartemen dapat disebabkan oleh :
a. Peningkatan
permeabilitas kapiler, akibat syok, luka bakar, trauma langsung.
b. Peningkatan
tekanan kapiler, akibat latihan atau adanya obstruksi vena.
c. Hipertrofi
otot.
d. Pendarahan.
e. Infus
yang infiltrasi.
f. Penurunan
volume kompartemen dapat disebabkan oleh : Balutan yang terlalu ketat
3. KLASIFIKASI
Pada regio brachium,
kompartemen dibagi menjadi 2 bagian yaitu :
A. Kompartemen
volar : otot flexor pergelangan tangan dan jari tangan, nervus ulnar dan nervus
median.
B. Kompartemen
dorsal : otot ekstensor pergelangan tangan dan jari tangan, nervus interosseous
posterior.
Pada regio
antebrachium, kompartemen dibagi menjadi 3 bagian yaitu :
A. Kompartemen
volar : otot flexor pergelangan tangan dan jari tangan, nervus ulnar dan nervus
median.
B. Kompartemen
dorsal : otot ekstensor pergelangan tangan dan jari tangan, nervus interosseous
posterior.
C. Mobile
wad : otot ekstensor carpi radialis longus, otot ekstensor carpi radialis
brevis, otot brachioradialis
Pada regio wrist joint,
kompartemen dibagi menjadi 6 bagian yaitu :
A. Kompartemen
I : otot abduktor pollicis longus dan otot ekstensor pollicis brevis.
B. Kompartemen
II : otot ekstensor carpi radialis brevis, otot ekstensor carpi radialis
longus.
C. Kompartemen
III : otot ekstensor pollicis longus.
D. Kompartemen
IV : otot ekstensor digitorum communis, otot ekstensor indicis.
E. Kompartemen
V : otot ekstensor digiti minimi.
F. Kompartemen
VI : otot ekstensor carpi ulnaris.
Pada regio cruris,
kompartemen dibagi menjadi 4 bagian yaitu :
A. Kompartemen
anterior : otot tibialis anterior dan ekstensor ibu jari kaki, nervus peroneal
profunda.
B. Kompartemen
lateral : otot peroneus longus dan brevis, nervus peroneal superfisial.
C. Kompartemen
posterior superfisial : otot gastrocnemius dan soleus, nervus sural.
D. Kompartemen
posterior profunda : otot tibialis posterior dan flexor ibu jari kaki, nervus
tibia.
4. PATOFISIOLOGI
Perkembangan
sindroma kompartemen tergantung tidak hanya pada tekanan intrakompartemen tapi
juga tekanan sistemik darah. Patofisiologi sindroma kompartemen melibatkan
hemostasis jaringan lokal normal yang menyebabkan peningkatan tekanan jaringan,
penurunan aliran darah kapiler dan nekrosis jaringan lokal akibat hipoksia.
Ketika
tekanan dalam kompartemen melebihi tekanan darah dalam kapiler dan menyebabkan
kapiler kolaps, nutrisi tidak dapat mengalir keluar ke sel-sel dan hasil
metabolisme tidak dapat dikeluarkan. Hanya dalam beberapa jam, sel-sel yang
tidak memperoleh makanan akan mengalami kerusakan. Pertama-tama sel akan
mengalami pembengkakan, kemudian sel akan berhenti melepaskan zat-zat kimia
sehingga menyebabkan terjadi pembengkakan lebih lanjut. Pembengkakan yang terus
bertambah menyebabkan tekanan meningkat.
Aliran
darah yang melewati kapiler akan berhenti. Dalam keadaan ini penghantaran
oksigen juga akan terhenti. Terjadinya hipoksia menyebabkan sel-sel akan
melepaskan substansi vasoaktif (misal : histamin, serotonin) yang meningkatkan
permeabilitas endotel. Dalam kapiler-kapiler terjadi kehilangan cairan sehingga
terjadi peningkatan tekanan jaringan dan memperberat kerusakan disekitar
jaringan dan jaringan otot mengalami nekrosis.
5. GEJALA
KLINIS
A. Pain
(nyeri) : nyeri pada jari tangan atau jari kaki pada saat peregangan pasif pada
otot-otot yang terkena, ketika ada trauma langsung.
B. Pallor
(pucat) : kulit terasa dingin jika di palpasi, warna kulit biasanya pucat,
abu-abu atau keputihan.
C. Parestesia
: biasanya memberikan gejala rasa panas dan gatal pada daerah lesi.
D. Paralisis
: biasanya diawali dengan ketidakmampuan untuk menggerakkan sendi, merupakan
tanda yang lambat diketahui.
E. Pulselesness
(berkurang atau hilangnya denyut nadi) : akibat adanya gangguan perfusi
arterial.
6. PENGUKURAN
TEKANAN KOMPARTEMEN
Pengukuran tekanan
kompartemen adalah salah satu tambahan dalam membantu menegakkan diagnosis.
Biasanya pengukuran tekanan kompartemen dilakukan pada pasien dengan penurunan
kesadaran yang dari pemeriksaan fisik tidak memberi hasil yang memuaskan.
Pengukuran tekanan kompartemen dapat dilakukan dengan menggunakan teknik
injeksi atau wick kateter.
Prosedur pengukuran
tekanan kompartemen, antara lain :
A. Teknik
injeksi
Jarum ukuran 18
dihubungkan dengan spoit 20 cc melalui saluran salin dan udara. Saluran ini
kemudian dihubungkan dengan manometer air raksa standar. Setelah jarum
disuntikkan ke dalam kompartemen, tekanan udara dalam spoit akan meningkat
sehingga meniskus salin-udara tampak bergerak. Kemudian tekanan dalam
kompartemen dapat dibaca pada manometer air raksa.
B. Teknik
Wick kateter
Wick kateter dan sarung
plastiknya dihubungkan ke transducer dan recorder. Kateter dan tabungnya diisi
oleh three-way yang dihubungkan dengan transducer. Sangat perlu untuk
memastikan bahwa tidak ada gelembung udara dalam sistem tersebut karena memberi
hasil yang rendah atau mengaburkan pengukuran. Ujung kateter harus dapat
menghentikan suatu meniskus air sehingga dapat dipastikan dan diketahui bahwa
dalam jaringan tersebut dilewati suatu trocar besar, kemudian jarumnya ditarik
dan kateter dibalut ke kulit.
7. TERAPI
Penanganan sindroma
kompartemen meliputi :
A. Terapi
medikal / non bedah
1. Menempatkan
kaki setinggi jantung, untuk mempertahankan ketinggian kompartemen yang
minimal, elevasi dihindari karena dapat menurunkan aliran darah dan akan lebih
memperberat iskemia
2. Pada
kasus penurunan volume kompartemen, gips harus dibuka dan pembalut kontriksi
dilepas
3. Mengoreksi
hipoperfusi dengan cara kristaloid dan produk darah
4. Pemberian
mannitol, vasodilator atau obat golongan penghambat simpatetik
B. Terapi
pembedahan / operatif
Fasciotomi adalah
pengobatan operatif pada sindroma kompartemen dengan stabilisasi fraktur dan
perbaikan pembuluh darah. Keberhasilan dekompresi untuk perbaikan perfusi
adalah 6 jam.Terapi untuk sindroma kompartemen akut maupun kronik biasanya
adalah operasi. Insisi panjang dibuat pada fascia untuk menghilangkan tekanan
yang meningkat di dalamnya. Luka tersebut dibiarkan terbuka (ditutup dengan
pembalut steril) dan ditutup pada operasi kedua, biasanya 5 hari kemudian.
kalau terdapat nekrosis otot, dapat dilakukan debridemen, kalau jaringan sehat,
luka dapat di jahit (tanpa regangan ), atau skin graft mungkin diperlukan untuk
menutup luka ini.
Adapun indikasi untuk
melakukan fasciotomi adalah :
1. Ada
tanda-tanda klinis dari sindroma kompartemen.
2. Tekanan
intrakompartemen melebihi 30 mmHg.
8. FASCIOTOMI
PADA REGIO CRURIS
Ada 3 pendekatan
fasciotomi untuk kompartemen regio cruris : fibulektomy, fasciotomi insisi
tunggal perifibular, dan fasciotomi insisi ganda. Fibulektomi adalah prosedur radikan
dan jarang dilakukan, dan jika ada, termasuk indikasi pada sindrom kompartemen
akut. Insisi tunggal dapat digunakan untuk jaringan lunak pada ektremitas.
Teknik insisi ganda lebih aman dan efektif.
A. Fasciotomi
insisi tunggal (davey, Rorabeck, dan Fowler) :
Dibuat insisi lateral,
longitudinal pada garis fibula, sepanjang mulai dari distal caput fibula sampai
3-4 cm proksimal malleolus lateralis. Kulit dibuka pada bagian anterior dan
jangan sampai melukai nervus peroneal superficial. Dibuat fasciotomy longitudinal
pada kompartemen anterior dan lateral. Berikutnya kulit dibuka ke bagian
posterior dan dilakukan fasciotomi kompartemen posterior superficial. Batas
antara kompartemen superficial dan lateral dan interval ini diperluas ke atas
dengan memotong soleus dari fibula. Otot dan pembuluh darah peroneal ditarik ke
belakang. Kemudian diidentifikasi fascia otot tibialis posterior ke fibula dan
dilakukan inisisi secara longitudinal.
B. Fasciotomi
insisi ganda (Mubarak dan Hargens) :
Insisi sepanjang 20-25
cm dibuat pada kompartemen anterior, setengah antara fibula dan caput tibia.
Diseksi subkutaneus digunakan untuk mengekspos fascia kompartemen. Insisi
tranversal dibuat pada septum intermuskular lateral dan identifikasi nervus
peroneal superficial pada bagian posterior septum. Buka kompartemen anterior
kearah proksimal dan distal pada garis tibialis anterior. Kemudian dilakukan
fasciotomi pada kompartemen lateral ke arah proksimal dan distal pada garis
tubulus fibula.
Insisi kedua dibuat secara longiotudinal 1 cm dibelakang garis posterior tibia. Digunakan diseksi subkutaneus yang luas untuk mengidentifikasi fascia. Vena dan nervus saphenus ditarik ke anterior. Dibuat insisi tranversal untuk mengidentifikasi septum antara kompartemen posterior profunda dan superficial. Kemudian dibuka fascia gastrocsoleus sepanjang kompartemen. Dibuat insisi lain pada otot fleksor digitorum longus dan dibebaskan seluruh kompartemen posterior profunda. Setelah kompartemen posterior dibuka, identifikasi kompartemen otot tibialis posterior. Jika terjadi peningkatan tekanan pada kompartemen ini, segera dibuka.
Insisi kedua dibuat secara longiotudinal 1 cm dibelakang garis posterior tibia. Digunakan diseksi subkutaneus yang luas untuk mengidentifikasi fascia. Vena dan nervus saphenus ditarik ke anterior. Dibuat insisi tranversal untuk mengidentifikasi septum antara kompartemen posterior profunda dan superficial. Kemudian dibuka fascia gastrocsoleus sepanjang kompartemen. Dibuat insisi lain pada otot fleksor digitorum longus dan dibebaskan seluruh kompartemen posterior profunda. Setelah kompartemen posterior dibuka, identifikasi kompartemen otot tibialis posterior. Jika terjadi peningkatan tekanan pada kompartemen ini, segera dibuka.
9. FASCIOTOMI
PADA REGIO ANTEBRACHIUM
A. Pendekatan
volar (Henry)
Dekompresi kompartemen
fleksor volar profunda dan superficial dapat dilakukan dengan insisi tunggal.
Insisi kulit dimulai dari proksimal ke fossa antecubiti sampai ke palmar pada
daerah tunnel carpal. Tekanan kompartemen dapat diukur selama operasi untuk
mengkonfirmasi dekompresi. Tidak ada penggunaan torniket. Insisi kulit mulai
dari medial ke tendon bicep, bersebelahan dengan siku kemudian ke sisi radial
tangan dan diperpanjang kea rah distal sepenjang brachioradialis, dilanjutkan
ke palmar. Kemudian kompartemen fleksor superficial diinsisi, mulai pada titik
1 atau 2 cm di atas siku kearah bawah sampai di pergelangan.(1,19)
Kemudian
nervus radialis diidentifikasi dibawah brachioradialis, keduanya kemudian
ditarik ke arah radial, kemudian fleksor carpi radialis dan arteri radialis
ditarik ke sisi ulnar yang akan mengekspos fleksor digitorum profundus fleksor
pollicis longus, pronatus quadratus, dan pronatus teres. Karena sindrom
kompartemen biasanya melibatkan kompartemen fleksor profunda, harus dilakukan
dekompresi fascia disekitar otot tersebut untuk memastikan bahwa dekompresi
yang adekuat telah dilakukan.
B. Pendekatan
Volar Ulnar
Pendekatan volar ulnar
dilakukan dengan cara yang sama dengan pendekatan Henry. Lengan disupinasikan
dan insisi mulai dari medial bagian atas tendon bisep, melewati lipat siku,
terus ke bawah melewati garis ulnar lengan bawah, dan sampai ke carpal tunnel
sepanjang lipat thenar. Fascia superficial pada fleksor carpi ulnaris diinsisi
ke atas sampai ke aponeurosis siku dan ke carpal tunnel ke arah distal.
Kemudian dicari batas antara fleksor carpi ulnaris dan fleksor digitorum
sublimis. Pada dasar fleksor digitorum sublimis terdapat arteri dan nervus
ulnaris, yang harus dicari dan dilindungi. Fascia pada kompartemen fleksor
profunda kemudian diinsisi.
C. Pendekatan
Dorsal
Setelah kompartemen
superficial dan fleksor profunda lengan bawah didekompresi, harus diputuskan
apakah perlu dilakukan fasciotomi dorsal (ekstensor). Hal ini lebih baik
ditentukan dengan pengukuran tekanan kompartemen intraoperatif setelah
dilakukan fasciotomi kompartemen fleksor. Jika terjadi peningktan tekanan pada
kompartemen dorsal yang terus meningkat, fasciotomi harus dilakukan dengan
posisi lengan bawah pronasi. Insisi lurus dari epikondilus lateral sampai garis
tengah pergelangan. Batas antara ekstensor carpi radialis brevis dan ekstensor
digitorum komunis diidentifikasi kemudian dilakukan fasciotomi.
10. KOMPLIKASI
A. Kegagalan
dalam mengurangi tekanan intrakompartemen dapat menyebabkan nekrosis jaringan,
selama perfusi kapiler masih kurang dan menyebabkan hipoksia pada jaringan
tersebut.
B. Kontraktur
volkmann adalah deformitas pada tungkai dan lengan yang merupakan kelanjutan
dari sindroma kompartemen akut yang tidak mendapat terapi selama lebih dari
beberapa minggu atau bulan.
C. Infeksi.
D. Hipestesia
dan nyeri.
E. Komplikasi
sistemik yang dapat timbul dari sindroma kompartemen meliputi gagal ginjal
akut, sepsis, dan Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) yang fatal jika
terjadi sepsis kegagalan organ secara multisistem.
P. PERSIAPAN
1. PERSIAPAN PASIEN
a. Menenangkan penderita ,jelaskan bahwa akan
memberikan pertolongan.
b. Pemeriksaan mencari tanda fraktur /dislokasi
c.
Menjelaskan
prosedur tindakan yang dilakukan
d. Meminimalkan gerakan daerah luka. Jangan
menggerakkan /memindahkan korban jika keadaan tidak mendesak.
e. Jika ada luka terbuka tangani segera luka dan
pendarahan dengan menggunakan cairan antiseptik dan tekan perdarahan dengan
kassa steril
f. Jika mengalami deformitas yang berat dan adanya
gangguan pada denyut nadi ,sebaiknya dilakukan telusuran pada ekstremitas yang
mengalami deformitas. Proses pelurusan harus hati-hati agar tidak memperberat .
g. Periksa kecepatan pengisian kapiler. Tekan kuku
pada ekstremitas yang cedera dengan ekstremitas yang tidak cedera secara
bersamaan. Periksa apakah pengembalian warna merah secara bersamaan /mengalami
keterlambatan pada ekstremitas yang cedera.
h. Jika terjadi gangguan sirkulasi segera bawa ke
RS
i.
Jika
terjadi edema pada daerah cedera ,lepaskan perhiasan yang dipakai penderita
j.
Jika ada
fraktur terbuka dan tampak tulang keluar. Jangan pernah menyentuh dan
membersihkan tulang tersebut tanpa alat steril karena akan memperparah keadaan
.
2. PERSIAPAN LINGKUNGAN
Menyiapkan
lingkungan aman dan nyaman
Q. PROSEDUR KERJA
1.
Memberi salam
2.
Jelaskan prosedur kepada klien dan
menanyakan keluhan yang dirasakan.
3.
Mencuci tangan
4.
Menjaga privasi klien dengan membuka bagian
yang akan dilakukan tindakan atau menutup tirai.
5.
Melihat bagian tubuh mana yang akan
dibalut.
6.
Atur posisi klien tanpa menutupi bagian
tubuh yang akan dilakukan tindakan.
7.
Lepaskan pakaian yang menutupi tempat untuk
mengambil tindakan.
8.
Perhatikan tempat yang akan dibalut dengan
menjawab pertanyaan berikut:
a.
Bagian dari tubuh mana
b.
Apakah ada luka terbuka atau tidak
c.
Bagaimana luas luka tersebut
d.
Apakah perlu membatasi gerak tubuh tertentu
atau tidak
e.
Memakai sarung tangan steril
f.
Pilih jenis balutan yang akan dipergunakan
atau dikombinasi.
g.
Sebelum dibalut, jika luka terbuka, perlu
diberi desinfektan.
h.
Tentukan posisi balutan dengan
mempertimbangkan hal berikut:
1)
Dapat membatasi pergeseran atau gerak tubuh
lainnya
2)
Sesedikit mungkin membatasi gerak tubuh
yang lain
3)
Tidak mengganggu peredaran darah misalnya
pada saat membalut berlapis-lapis
i.
Cara melakukan pembalutan
1)
Cara membalut dengan mitela
a.
Salah satu mitela dilipat 3-4 cm sebanyak
1-3 kali.
b.
Pertahankan sisi yang telah terlipat
terletak diluar bagian yang akan dibalut, lalu ditarik secukupnya dan kedua
ujung sisi diikat.
c.
Salah satu ujung bebas lainnya ditarik dan
dapat diikat pada lipatan, diikat pada tempat lain, atau dapat dibiarkan bebas.
Hal ini tergantung pada tempat dan kepentingan.
2)
Cara membalut dengan dasi
a.
Pembalut mitela dilipat
dari salah satu sisi sehingga berbentuk pita dengan masing-masing ujung lancip.
b.
Bebatkan pada tempat yang
akan dibalut sampai kedua ujungnya dapat diikat.
c.
Diusahakan agar balutan
tidak mudah kendur dengan cara sebelum diikat arahnya saling menarik.
d.
Kedua ujungnya diikatkan
secukupnya.
3)
Cara membalut dengan pita
a.
Berdasarkan besar bagian
tubuh yang akan dibalut, maka dipilih pembalut pita dengan ukuran lebar yang
sesuai.
b.
Balutan pita yang biasanya
terdiri atas beberapa lapis, dimulai dari salah satu ujung yang diletakkan dari
proksimal kedistal menutup sepanjang bagian tubuih yang akan dibalut, kemudian
dari distal ke proksimal dibebatkan dengan arah bebatan saling menyilang dan
tumpang tindih antara bebatan yangn satu dengan bebatan berikutnya.
c.
Kemudian ujung yang
didalam ditarik dan diikat dengan ujung yang lain
R. EVALUASI
1. Mencatat tindakan pemasangan perban dan respon
klien dalam catatan keperawatan.
2. Mencatat warna, kehangatan, nadi, dan mati
rasa.
3. Mencatat hasil tindakan perawatan luka
yang mencakup data subyektif dan obyektif, analisa dan planning.
4. Evaluasi
hasil pembalutan ; mudah lepas/longgar, terlalu ketat (mengganggu peredaran
darah / gerakan)
5. Evaluasi
perasaan klien
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Balut bidai ialah pertolongan pertama dgn pengembalian
anggota tubuh yg dirasakan cukup nyaman & pengiriman korban tiada gangguan
rasa nyeri. (Muriel Street, 1995)
Balut bidai ialah suatu cara buat
menstabilkan/menunjang persendian dlm memanfaatkan sendi yg benar/melindungi
trauma dari luar (Barbara C Long, 1996)
Jadi balut bidai ialah suatu balutan yg dibalutkan
pada area tubuh tertentu dgn memanfaatkan perban/mitela yg biasanya disangga
balok kayu ataupun besi tujuannya buat melindungi trauma, mengurangi pergerakan
pada daerah patah / retak.
B.
SARAN
Diaharapkan mahasiswa / mahasiswi dapat mengetahui tentang balut bidai.
DAFTAR
PUSTAKA
Ely, A dkk.1996. Penuntun Praktikum
Keterampilan Kritis III Buat Mahasiswa D-3 Keperawatan. Jakarta: Salemba.
Mancini, Mary E. 1994. Prosedur
Keperawatan Darurat. Jakarta : EKG.
Mohamad, Kartono. 1991. Pertolongan
Pertama. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Purwadianto, Agus. 2000. Kedaruratan
medik. Jakarta : Binarupa Aksara.
Schaffer, dkk. 2000. Pencegahan
Infeksi & Praktek Yg Aman. Jakarta : EGC.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar